Menteri Susi: Pengusaha Ikan Harus Bertanggung Jawab

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Nusantara, Jakarta, 3 Maret 2016. Rapat ini membahas pengambilan keputusan untuk melanjutkan pembicaraan tingkat II RUU. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Gedung Nusantara, Jakarta, 3 Maret 2016. Rapat ini membahas pengambilan keputusan untuk melanjutkan pembicaraan tingkat II RUU. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Boston - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudijastuti mengatakan, perusahaan perikanan semestinya bukan hanya menjadi penjual ikan semata tapi juga menjadi pengusaha yang bertanggung jawab.  Untuk itulah Menteri Susi meminta para pengusaha industri perikanan agar mengikuti dan mematuhi tata cara dan aturan main yang diterapkan oleh pemerintah.

    "Kalau tidak mau diatur, kita akan ditinggal oleh aturan main dunia yang mengharuskan kita menuju pada prinsip responsible fisheries," kata Susi Pudijastuti saat mengunjungi paviliun Indonesia di ajang Seafood Expo North America  (SENA) di Boston Exhibition Center, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Minggu, 6 Maret 2016, atau Senin pagi waktu Indonesia Barat.

    Kementerian Kelautan tengah menyiapkan tata cara responsible fishery yang harus diikuti pengusaha industri perikanan. Aturan itu antara lain melarang penangkapan ikan secara ilegal dan melaporkan hasil tangkapan. Hanya dengan mematuhi aturan itulah, kata Susi Pudijastuti, Indonesia bisa memastikan industri perikanannya berkelanjutan, berperikemanusiaan, dan ramah lingkungan.

    Lewat ajang SENA di Boston, Susi Pudijastuti berharap ada masukan yang besar dari para pengusaha perikanan kelas kakap dunia untuk perikanan Indonesia sehingga bisa terus memimpin dengan laut yang begitu luas dan potensi yang begitu besar. "Sekarang modal itu sudah di tangan kita. Saya berharap Indonesia menjadi eksportir seafood yang diperhitungkan dunia," ucap Susi Pudijastuti.

    Dalam SENA 2016 di Boston,  17 perusahaan pengolahan hasil laut  dari  Indonesia ikut berpartisipasi.  Ada 16 perusahaan yang dikoordinasi Kementerian Kelautan. Sedangkan 1 perusahaan lagi mengikuti pameran ini secara mandiri. Tahun ini paviliun Indonesia--yang dihiasi corak merah dan putih--mengusung tema "Indonesia Seafood: Quali-Safe and Suistanable."

    Direktur Pemasaran PT Dharma Samudera Fishing Industries,  Herman Sutiamidjaja, mengatakan SENA di Boston salah satu ajang potensial bagi perusahannya untuk mengincar pembeli dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. "Kami memperkirakan ada kenaikan 20 persen tahun ini ketimbang transaksi US$ 20 juta pada 2015, " yang mengaku sudah 26 tahun mengikuti SENA.

    SENA di Boston merupakan salah satu pameran hasil laut dan industri perikanan terbesar di kawasan Amerika Utara. Sedikitnya 1.207 dari 46 negara ikut dalam perhelatan tahunan yang sudah berusia ke-36 itu. Reputasi SENA di Boston hanya kalah dari Seafood Expo Global yang saban tahun digelar di Brussels. Tahun lalu ajang ini diikuti belasan ribu peserta dari 140 negara.

    BOBBY CHANDRA (BOSTON)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.