Gubernur BI: Bunga Rendah Membuat Orang Mau Bekerja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mendukung permintaan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menurunkan suku bunga perbankan di bawah 10 persen. Penurunan suku bunga dinilai dapat membantu masyarakat mengembangkan usahanya.

    Agus menyebutkan bunga yang rendah membuat orang mau bekerja. Bunga di angka 9,5 persen pun dianggap Agus akan berdampak positif. "Tapi kalau bunga tinggi, orang akan berpikir untuk menyimpan uang di bank saja daripada mengekspansi perusahaan dengan risiko," kata Agus di kantornya pada Jumat, 4 Maret 2016.

    Menurut Agus, salah satu cara menurunkan bunga ialah dengan efisiensi perbankan. Dengan efisiensi, bank diharapkan mempuayai pricing penawaran kredit yg lebih efisien.

    Baca juga: Penurunan Suku Bunga Malah Untungkan Bank, Ini Sebabnya

    Agus menyambut baik komitmen perbankan untuk mencapai lending rate di bawah dua digit. "Itu sesuatu yang baik."  Upaya tersebut muncul mulai dari efisiensi funding hingga premi risiko seandainya di dunia usaha tidak ada wanprestasi dan berjalan sehat.

    Sebelumnya Wapres Jusuf Kalla mengatakan  tingkat suku bunga di Indonesia masih terlalu tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Ia berharap penurunan suku bunga bisa optimal dan bersaing dengan negara lain. Khusus suku bunga pinjaman, pemerintah ingin berada di level satu digit.

    "Jadi target kami tahun depan 7 persen lah. Harus itu," kata Kalla beberapa waktu  lalu. Dengan semakin bersaingnya suku bunga di Indonesia, Kalla berharap ekonomi bisa bergerak lebih baik.

    VINDRY FLORENTIN | ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.