Eropa dan Amerika Kini Ambisius Masuki Pasar Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Hotel St Regis, San Francisco, 17 Februari 2016. Tim Ditjen Amerop/Feby

    Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Hotel St Regis, San Francisco, 17 Februari 2016. Tim Ditjen Amerop/Feby

    TEMPO.CO, Jakarta - Negara-negara Eropa melirik kemungkinan-kemungkinan usaha baru dan mencari peluang kerja sama bisnis serta investasi potensial, khususnya setelah adanya penyatuan pasar kawasan dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

    "Indonesia punya daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Terbukanya pasar Asean membuat negara-negara di Eropa dan Amerika berlomba-lomba melebarkan sayap usahanya di pasar Asia Tenggara, tidak terkecuali Slovenia," Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak, Jumat (4 Maret 2016).

    Slovenia yang merupakan negara pecahan Yugoslavia di Eropa Tengah dengan perekonomian yang tumbuh dan stabil, dan pada Jumat (4 Maret 2016) State Secretary Kementerian Pembangunan Ekonomi dan Teknologi Slovenia, Ales Cantarutti, untuk melakukan kunjungan kehormatan ke Indonesia untuk menjajaki peluang bisnis dan investasi.

    Menurut Nus, peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Slovenia akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan perekonomian nasional dan hal tersebut merupakan kesempatan baik untuk meningkatkan ekspor Indonesia khususnya ke Slovenia.

    Menurut Nus, sejak hubungan bilateral antara Indonesia dan Slovenia dimulai pada tahun 1992, kerja sama perdagangan antara kedua negara terus tumbuh. Total perdagangan Indonesia dengan Slovenia pada tahun 2015 tercatat sebesar US$106 juta, meningkat 11,74% dari tahun sebelumnya.

    Saat ini mitra utama Indonesia di Eropa antara lain Belanda, Italia, Jerman, dan Spanyol. Sedangkan mitra utama perdagangan Slovenia antara lain Jerman, Austria, Kroasia, Italia, dan Prancis.

    Pada 2015, tercatat ekspor Indonesia ke Slovenia sebesar US$93,25 juta atau naik 12,88% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, impor Indonesia dari Slovenia pada tahun yang sama sebesar US$12,78 juta, naik 4,09%.

    Dalam pertemuan tersebut, Nus didampingi oleh perwakilan dari Kadin Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Kementerian Pertahanan. Sementara itu, Delegasi Slovenia terdiri atas sejumlah pejabat, anggota Kadin Slovenia, dan tujuh orang pelaku usaha Slovenia dari berbagai sektor.

    Salah satu agenda kunjungan adalah business to business (B2B) meeting antara pelaku usaha Slovenia dan pelaku usaha Indonesia. Delegasi Slovenia juga dijadwalkan mengunjungi beberapa perusahaan di Jakarta guna mencari mitra yang tepat untuk melakukan joint venture dan melihat secara langsung aktivitas produksi.

    Sektor yang ditargetkan Slovenia dalam kunjungannya kali ini antara lain energi, pengolahan kayu, transmisi elektronik, alat pertahanan, dan pengelolaan sampah. Kedatangan delegasi bisnis Slovenia diharapkan dapat meningkatkan ekspor Indonesia ke Slovenia secara khusus dan ke Eropa secara umum.

    Perekonomian Slovenia cenderung stabil dibandingkan negara-negara pecahan Yugoslavia lainnya. Pendapatan per kapita Slovenia termasuk yang tertinggi di Eropa Tengah. Slovenia sempat diterpa krisis global pada tahun 2008 lalu, namun Slovenia bangkit dan kini memiliki ekonomi yang kuat.

    Beberapa produk utama ekspor Indonesia ke Slovenia antara lain adalah karet alam senilai US$49,57 juta atau setara dengan 53,16% dari total ekspor Indonesia ke Slovenia, selain itu batu bara sebesar US$12,08 juta atau 12,96% serta kertas dan karton tak dilapisi dengan nilai US$3,79 juta atau 4,07%.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.