BPS: Harga-harga Turun, Daya Beli Masyarakat Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik. TEMPO/Rezki Alvionitasari.

    Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik. TEMPO/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.COJakarta - Kepala Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, dengan harga yang menurut dia relatif murah, daya beli masyarakat saat ini dinilai cukup baik. "Saya kira cukup baik," kata Sasmito saat ditemui di kantor Badan Pusat Statistik pada Selasa, 1 Maret 2016.

    Sasmito mengungkapkan, dengan adanya deflasi, ditambah harga-harga barang yang relatif murah, justru seharusnya daya beli masyarakat akan naik. "Saya kira akan meningkatkan daya beli," ia menuturkan.

    Meski begitu, menurut Sasmito, pemerintah harus tetap mengendalikan harga-harga sekarang ini agar tetap terjaga dan tak mengalami kenaikan. Sasmito berharap, setelah April nanti, tak terjadi kenaikan yang signifikan.

    Kepala BPS Suryamin mengatakan, pada Februari 2016, terjadi deflasi 0,09 persen. "Dari 82 kota indeks harga konsumen, 52 kota di antaranya mengalami deflasi," ujarnya. 

    Suryamin menjelaskan, angka deflasi ini disebabkan beberapa hal, di antaranya penurunan tarif listrik untuk daya 1.300 VA, baik yang pascabayar maupun prabayar. Menurut Sunyamin, penurunan tarif listrik memiliki andil sebesar 0,14 persen dari deflasi.

    Selanjutnya, yang memiliki andil terhadap deflasi adalah bawang merah dan daging ayam ras, yang masing-masing memiliki andil deflasi sebesar 0,08 dan 0,05 persen. Menurut Suryamin, ini terjadi karena pasokan dari dua komoditas itu cukup banyak.

    Penurunan harga BBM pada Januari lalu ternyata juga memiliki pengaruh terhadap deflasi yang terjadi pada Februari 2016. Penurunan harga BBM memiliki andil sebesar 0,04 persen terhadap deflasi.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.