Menteri Jonan Ingin Maskapai Besar Terbang ke Gayo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memberikan keterangan kepada wartawan saat melakukan inspeksi di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 20 Desember 2015. TEMPO/Arkhelaus Wisnu

    Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memberikan keterangan kepada wartawan saat melakukan inspeksi di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 20 Desember 2015. TEMPO/Arkhelaus Wisnu

    TEMPO.CO, Takengon - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan akan mendorong maskapai penerbangan berjadwal terbang langsung ke Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Sebab, Bandara Rembele, yang menjadi pintu masuk Gayo, sudah bisa didarati pesawat jet berbadan sedang.

    "Pesawat propeler Hercules C-130 dan Boeing 737 klasik sudah bisa mendarat di sini," kata Jonan di Bandara Rembele, Bener Meriah, Aceh, Selasa, 1 Maret 2016.

    Kini panjang landasan pacu Bandara Rembele telah diperbarui menjadi 2.250 meter dari panjang semula 1.400 meter. Navigasi penerbangan pun sudah menggunakan satelit. "Belum ada maskapai besar yang menyatakan berminat. Tapi akan kami dorong."

    Bandara Rembele mulai diperluas sejak 2014 menggunakan anggaran Kementerian Perhubungan 2014-2015 sebesar Rp 363 miliar. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan meresmikan operasi hasil renovasi itu, Rabu, 2 Maret 2016.

    Baca: Harga Pertamax & Pertalite Turun per 1 Maret, Ini Daftarnya  

    Dengan renovasi itu, Rembele sudah bisa didarati pesawat berbadan sedang. Kapasitas penumpang mencapai 200 ribu orang per tahun atau 80 penumpang dalam satu waktu. Ke depan, terminal kargo akan dibangun dengan luas 1.000 meter persegi.

    Saat ini penerbangan ke Rembele hanya dilayani dengan penerbangan perintis dari Kualanamu, Medan. Frekuensinya cuma tiga kali seminggu. Padahal Dataran Tinggi Gayo menyimpan potensi agrowisata kopi, wisata danau, dan air terjun.

    KHAIRUL ANAM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.