BPS: Jumlah WNA Bekerja Paruh Waktu Naik 69 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wisatawan asing saat keluar dari musem yang berada di kawasan Kota Tua, Jakarta, (3/9). Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebutkan, pada Januari-Juli 2013 jumlah turis asing yang masuk Indonesia mencapai 4.872.262. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah wisatawan asing saat keluar dari musem yang berada di kawasan Kota Tua, Jakarta, (3/9). Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyebutkan, pada Januari-Juli 2013 jumlah turis asing yang masuk Indonesia mencapai 4.872.262. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik Sunyamin memaparkan fakta menarik tentang kunjungan wisatawan mancanegara yang bekerja paruh waktu atau yang kurang dari satu tahun. "Ini bisa menjadi informasi awal menghadapi MEA," katanya saat ditemui di kantor Badan Pusat Statistik pada Selasa, 1 Maret 2016.

    Jumlah kunjungan warga negara asing yang masuk ke Indonesia untuk bekerja paruh waktu pada Januari 2016 adalah 25,238 juta. Jumlah  ini melonjak  69,30 persen dibanding pada 2015 yang berjumlah 14,550 juta.

    Berdasarkan catatan BPS, pekerjaan yang diambil oleh WNA secara paruh waktu rata-rata berada di bidang konstruksi, konsultan, instruktur, serta beberapa bidang lainnya. "Dalam setahun, hampir 70 persen (kenaikannya)," ujar Suryamin.

    Namun, ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai asal negara WNA yang bekerja paruh waktu ini, Sunyamin tak bisa menjelaskan. Sebab ia mengaku belum memiliki data yang detail soal ini. "Belum dirinci sampai detail kalau soal itu."

    Ia menjelaskan yang baru diketahui pihaknya hanya jumlah orangnya saja. Itu pun, menurut pengakuan Suryamin, didapat dari data yang dimiliki oleh pihak Imigrasi dan pelabuhan-pelabuhan kecil.



    Baca Juga: Inflasi Komponen Inti Rendah, BPS: Tanda Ekonomi Terkendali  

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.