Sentimen Positif Kawasan, IHSG Diperkirakan Masih Menguat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bursa Efek Indonesia, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    Bursa Efek Indonesia, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, mengatakan tren bullish pada perdagangan awal Maret 2016 IHSG diperkirakan masih berlanjut, terutama ditopang saham-saham berbasis komoditas dan perbankan.

    Menurut David, dari sentimen kawasan, langkah bank sentral Cina (PBoC) kemarin yang kembali memangkas reserve requirement ratio (RRR) 50 bp akan berdampak positif di pasar keuangan.

    "Pemangkasan 50 bp RRR akan menyuntikkan dana hingga 605 miliar yuan di sistem keuangan Cina. Pasar juga akan mengantisipasi data manufaktur Cina yang diperkirakan masih terkontraksi," kata David dalam siaran tertulisnya, Selasa, 1 Maret 2016.

    David memperkirakan, pada perdagangan hari ini, IHSG akan bergerak bervariasi, tapi cenderung menguat. "Akan menguji resisten 4800 dengan support saat ini di posisi 4.720," ucapnya.    

    Aksi beli kembali berlanjut pada perdagangan akhir Februari lalu di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham Asia. IHSG berhasil melanjutkan penguatannya dengan ditutup di posisi 4.770,956, naik 37,807 poin atau 0,8 persen. Aksi beli terutama melanda saham sektor perbankan, barang konsumsi, dan perkebunan.

    Pasar saham Asia kemarin, menurut David, cenderung terkoreksi sebagai imbas koreksi pasar saham Cina hingga 3 persen. The MSCI Asia Pacific Index kemarin melemah 0,4 persen di posisi 119,19 setelah pasar kecewa atas hasil pertemuan G20 di Shanghai yang tidak menghasilkan langkah-langkah konkret untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global.

    Sedangkan Wall Street tadi malam ditutup di teritori negatif, mengakhiri Februari 2016 dengan koreksi bulanan 0,4 persen, menandai koreksi untuk tiga bulan berturut-turut. Indeks DJIA dan S&P tadi malam masing-masing terkoreksi 0,7 persen dan 0,8 persen dengan tutup di posisi 16.516,50 dan 1.932,23. Koreksi terjadi di tengah harga minyak yang menguat 3,33 persen di angka US$ 33,87 per barel.

    Selain itu, tutur David, pelaku pasar cenderung merealisasi keuntungan, menyusul minimnya insentif positif setelah data indeks Chicago PMI pada Februari turun ke posisi 47,6, di bawah perkiraan 52,1 dan bulan sebelumnya 55,6.

    DESTRIANITA K.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.