Produksi Melimpah, Ganjar Ajak Petani Tolak Impor Beras

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktifitas bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Vietnam menang kontrak untuk memasok 1 juta ton beras ke Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    Aktifitas bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Vietnam menang kontrak untuk memasok 1 juta ton beras ke Indonesia. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak petani khususnya di Kabupaten Cilacap untuk menolak impor beras karena produksi padi saat ini melimpah.

    "Hasil seperti ini tidak hanya di Cilacap, hampir se-antero Indonesia. Masak masih impor beras," katanya saat memberi sambutan saat panen raya yang dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap, Senin (29 Februari 2016).

    Ganjar menuturkan, saat menumpang helikopter dari Semarang menuju Cilacap, ia hamparan sawah yang menguning. Oleh karena itu, ia menyayangkan jika Indonesia masih mengimpor beras.

    "Petani sanggup enggak (menolak impor beras)," katanya yang disambut tepuk tangan petani.

    Lebih lanjut ia mengatakan, kedaulatan pangan dan energi merupakan keharusan.

    "Kita harus yakin mampu bangkit dan mampu berproduksi untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri," katanya.

    Produksi gabah kering panen di Jawa Tengah pada 2015 mencapai 11,05 juta ton atau melebihi target sebesar 10,22 juta ton.

    Menurut dia, petani tidak perlu menargetkan produktivitas yang tinggi di atas 8 ton per hektare karena dengan 7 ton per hektare saja sudah mencukupi kebutuhan pangan.

    "Dengan 7 ton per hektare saja sudah bisa menyelamatkan negara ini," katanya.

    Terkait puncak musim panen pada Maret 2016, Ganjar meminta seluruh kabupaten/kota di Jateng untuk memantau perkembangan harga gabah di lapangan dan melaporkannya minimal dua kali dalam seminggu.

    "Kalau ada yang harganya ambles, tolong laporkan ke saya. Harusnya, petani saat panen raya menghasilkan harga yang raya juga," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.