Plastik Berbayar Dirasa Bisa Memperbaiki Pengelolaan Limbah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konsumen berbelanja di salah satu mini market di kawasan Jalan Guntur, Manggarai, Jakarta, 21 Februari 2016. Pemerintah mulai menguji coba penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern secara serentak di 17 kota Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Konsumen berbelanja di salah satu mini market di kawasan Jalan Guntur, Manggarai, Jakarta, 21 Februari 2016. Pemerintah mulai menguji coba penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern secara serentak di 17 kota Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan plastik saat ini dikenakan biaya Rp2.000 per lembar waktu berbelanja. Rencana ini dinilai bisa memperbaiki pengelolaan limbah atau plastik bekas pakai di Indonesia.

    "Kami masih wait and see seberapa efektif sistem ini diterapkan. Karena tujuannya adalah managemen pengelolaan plastik bekas pakai, bukan berbayarnya," kata Sekjen Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono melalui pesan singkat di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2016.

    Menurut Fajar, seluruh masyarakat bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah plastik.

    Fajar berharap program plastik ini tepat sasaran di mana anggaran yang diperoleh betul-betul digunakan untuk pengelolaan sampah plastik, bukan malah menjadi biaya tambahan, tapi pengelolaan sampahnya malah tambah buruk.

    Fajar menambahkan, industri plastik juga siap memasok plastik degradable atau ramah lingkungan dengan kapasitas produksi 3.500 ton per bulan untuk toko-toko di Indonesiar.

    Menurutnya, baru 30 persen dari kapasitas itu yang diserap berbagai industri dalam negeri.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.