Dolar Menguat, Pariwisata Indonesia Justru Lebih Kompetitif

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok turis asing dan pedagang bersaing saat mengikuti lomba balap gerobak sampah dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-70 di Pantai Kuta, Bali, 17 Agustus 2015.  TEMPO/Johannes P. Christo

    Kelompok turis asing dan pedagang bersaing saat mengikuti lomba balap gerobak sampah dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-70 di Pantai Kuta, Bali, 17 Agustus 2015. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata Arief Yahya optimistis target pertumbuhan pariwisata dapat tercapai. Menurut dia, meskipun nilai rupiah melemah, target 20 persen masih dapat tercapai. Apalagi pelemahan ini menurut Arief justru meningkatkan daya saing harga di sektor pariwisata.

    Arief mengatakan dengan harga yang sama, wisatawan dapat menikmati fasilitas yang lebih banyak. Misalnya, dengan harga US$ 100 di Indonesia sudah bisa mendapatkan hotel dengan kelas VVIP, sementara di negara lain belum tentu mendapatkan fasilitas seperti ini.

    "Dan itu bukan hanya kata saya, World Economic Forum mengatakan kita nomor tiga di dunia dalam hal price competitifness," kata Arief di Jakarta, Jumat, 26 Februari 2016.

    Meski pelemahan ekonomi ini dianggap berdampak pada turunnya konsumsi. Namun, Arief mengaku masih tetap optimistis dengan target realisasi dapat tercapai 20 persen. Saat ini menurut Arief terjadi peningkatan jumlah wisatawan sebesar lebih dari 10 persen dibandingkan di bulan yang sama pada 2015.

    Menurut Arief, pada bulan Februari 2015 jumlah wisatawannya 700 ribu orang. Namun, pada Februari tahun ini jumlah wisatawannya telah mencapai 800 ribu orang. "Jadi ketika Februari tembus 1 juta, secara statistik ini dikali 12, kita kalikan realisasi Februari," ujar dia.

    Untuk meningkatkan promosi pariwisata kementerian menyasar promosi melalui dunia maya. Untuk itu kementerian pariwisata mengalokasikan anggaran sebesar 40 persen untuk alokasi dengan dunia maya, yang lebih besar dibandingkan rata-rata dunia yang hanya 30 persen. Sebagian besar promosi memang masih menggunakan media cetak dan televisi.

    Untuk itu, kementerian merangkul sejumlah browser. Untuk menjangkau pasar dunia, kementerian merangkul Google. Baru-baru ini untuk menyasar pasar Cina, kementerian juga telah mengajak browser asal negara Tiongkok tersebut, yakni Baidu. Hal ini guna meningkatkan 10 juta wisatawan Cina ke Indonesia.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.