Konsultan Ritel: Omzet Tahun Ini Diproyeksi Tumbuh 13 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Obligasi Negara Ritel Seri ORI009. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Obligasi Negara Ritel Seri ORI009. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsultan Ritel Yongky Susilo memprediksi puncak pertumbuhan omzet ritel pada tahun ini terjadi pada kuartal II/2016 sebesar 12%-13%, didorong oleh momen Ramadan dan Idulfitri.

    "Tren bisnis ritel selalu mengikuti momen Ramadan dan Idulfitri. Sekarang kan hari rayanya perlahan maju, bisa dipastikan bisnis ritel akan tumbuh tertinggi pada momentum festive tersebut," ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (25 Februari 2016).

    Kemudian, pada kuartal berikutnya, menurun menjadi 7%-8% dan di kuartal IV/2016 tumbuh 9%-10%. Dengan demikian, secara rata-rata pertumbuhan omzet ritel sepanjang tahun ini berada di kisaran 10%-11%.

    Hal ini dipacu karena ada optimisme kondisi makro yang kondusif. Adapun indikasinya, yakni turunnya suku acuan bunga BI menjadi 7%, pembangunan infrastruktur yang agresif oleh pemerintah, situasi politik yang lebih stabil, serta harga barang yang stabil sebab inflasi yang turun.

    "Inflasi sejak awal tahun ini sudah turun, hal tersebut menjadi optimisme harga barang tidak akan naik secara signifikan. Harapannya kenaikan omzet dipacu bukan lagi dipacu karena kenaikan harga barang, tetapi oleh kenaikan volume bisnis," ujar staf ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) itu.

    Dia menjelaskan sepanjang tahun lalu secara rata-rata omzet ritel mencapai 10,5%. Meski pertumbuhannya tergolong normal, ada faktor penyebabnya yakni inflasi yang tinggi pada awal tahun lalu sehingga harga barang-barang menjadi naik. Terlihat dari rerata segi volume penjualan hanya mencapai 2% dan unit barang sebesar 8,2%.

    "Berarti, yang semestinya bisa dapat uang dari jualan 10 sepatu sebesar Rp1 juta, tetapi karena inflasi naik pedagang bisa dapat Rp1,5 juta dari 10 sepatu. Jangan sampai kejadian omzet naik karena harga barang naik lagi, harus pacu dari volumenya."

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.