Pemerintah Punya Dua Tahun Manfaatkan Situasi Global, Lalu?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Republik Hungaria Victor Orban di Istana Merdeka, Jakarta, 1 Februari 2016. Pada pertemuan bilateral ini akan dibahas sejumlah agenda penting di antaranya, peningkatan kerja sama di bidang ekonomi digital, energi terbarukan, water management, serta perdagangan dan investasi. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Republik Hungaria Victor Orban di Istana Merdeka, Jakarta, 1 Februari 2016. Pada pertemuan bilateral ini akan dibahas sejumlah agenda penting di antaranya, peningkatan kerja sama di bidang ekonomi digital, energi terbarukan, water management, serta perdagangan dan investasi. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dewan Penasihat Mandiri Institute Chatib Basri mengatakan pemerintah memiliki waktu sekitar dua tahun untuk memanfaatkan situasi ekonomi global saat ini dengan membuka investasi langsung luar negeri.

    Dia memprediksi The Fed harus menaikkan interest rate dalam dua tahun ke depan.

    Menurutnya, Foreign Direct Investment (FDI) harus dibuka sehingga dana asing tidak lari ke saham dan obligasi.

    Arus dana asing yang masuk ke sektor produktif diyakini bisa tertanam lebih lama di dalam negeri.

    “Kalau yang bahaya, kalau dia masuk ke portfolio, dia akan balik lagi. Jadi setiap stock market booming, obligasi booming, kita mesti khawatir,” ucapnya, usai menghadiri The Economist Events, di Jakarta, Kamis (25 Februari 2016).

    Mantan Menteri Keuangan ini menambahkan selama The Fed belum menaikkan suku bunga acuan, BI berpeluang untuk menurunkan rate sehingga menyeret bunga bank lebih rendah.

    Pemerintah mengharapkan bunga kredit turun menjadi 7% tahun ini. Sementara, rata-rata bunga kredit di negara Asean sekitar 5%-6%.

    Untuk mencapai itu, dia menilai pemerintah harus mengendalikan inflasi hingga sama dengan negara-negara di regional.

    “Bunga tidak bisa turun terlalu jauh kalau inflasi kita lebih tinggi dari negara lain,” ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.