Pengamat: Plastik Berbayar Harus Mahal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menunjukkan kantong belanja saat kampanye #Pay4Plastic atau penerapan plastik berbayar untuk mereduksi penggunaan kantong plastik bersama Gerakan Indonesia Diet Plastik di Bandung, Jawa Barat, 27 Desember 2015. TEMPO/Prima Mulia

    Warga menunjukkan kantong belanja saat kampanye #Pay4Plastic atau penerapan plastik berbayar untuk mereduksi penggunaan kantong plastik bersama Gerakan Indonesia Diet Plastik di Bandung, Jawa Barat, 27 Desember 2015. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat lingkungan dari Universitas Khairun Ternate Thamrin Ali Ibrahim mengatakan kantong plastik berbayar yang disediakan pasar modern harus mahal, sehingga bisa mendorong masyarakat yang datang berbelanja untuk membawa kantong plastik sendiri.

    "Kalau kantong plastik berbayar itu hanya ditebus Rp200 per kantong, pasti masyarakat tidak akan terdorong untuk membawa kantong plastik dari rumah, berbeda kalau nilai tebusannya diatas Rp5.000 per kantong," katanya di Ternate, Rabu, menangapi kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai pemberlakukan kantong plastik berbayar di pasar modern.

    Menurut dia, pemberlakuan kantong plastik berbayar tersebut memang sangat tepat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, yang belakangan ini menimbulkan masalah besar bagi lingkungan karena kontribusinya sangat besar terhadap produksi sampah.

    Sampah plastik, kata Thamrin Ali Ibrahim, sangat merusak lingkungan karena proses penguraiannya yang membutuhkan waktu 500 tahun sampai 1.000 tahun, sehingga sangat tepat kalau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan langkah pengurangan pemanfaatannya seperti melalui kantong plastik berbayar.

    Ia mengatakan, pemberlakuan kantong plastik berbayar tersebut sebaiknya jangan hanya di pasaran modern, tetapi juga harus di pasar tradisional karena penggunaan kantong plastik di pasar tradisional justru lebih besar.

    Namun, menurut dia, harus disertai dengan sosialisasi secara intensif kepada masyarakat mengenai penerapan kantong plastik berbayar tersebut, termasuk mengenai bahaya kantong plastik bagi lingkungan sehingga masyarakat bisa menerima dan mendukungnya.

    Selain itu, pemerintah harus memberikan solusi sehingga masyarakat selama ini mengandalkan penggunakan kantong plastik, terutama para pedagang tidak kesulitan untuk mendapatkan sarana yang fungsinya sama tanpa berdampak negatif terhadap lingkungan, ujarnya.

    Thamrin Ali Ibrahim menambahkan, produk kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk tempat berbelanja, seperti tas belanja dari anyaman bambu atau rotan perlu dihidupkan kembali, karena produk seperti ini lebih ramah lingkungan dan mudah diperoleh di masyarakat.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.