Target 2016, Produksi Padi Aceh 2,7 Juta Ton  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani mengikat padi ambok saat panen raya di area persawahan Batutumonga, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 22 Agutus 2015. Padi Ambok merupakan varietas unggulan Toraja Utara yang mengandung multivitamin dan memiliki kadar gula yang rendah. TEMPO/Iqbal Lubis

    Petani mengikat padi ambok saat panen raya di area persawahan Batutumonga, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 22 Agutus 2015. Padi Ambok merupakan varietas unggulan Toraja Utara yang mengandung multivitamin dan memiliki kadar gula yang rendah. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Pemerintah Provinsi Aceh menargetkan produksi padi pada 2016 sebesar 2,7 juta ton. Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf dalam sebuah seminar yang digelar di Universitas Malikussaleh, Selasa, 23 Februari 2016.

    Menurut Muzakir, ada tiga tanaman yang menjadi perhatian Pemprov Aceh, yaitu padi, kedelai, dan jagung. Untuk 2016, selain padi, kedelai dan jagung produksinya ditargetkan masing-masing 131 ribu ton dan 237 ribu ton.

    Data tahun lalu, produksi padi di Aceh sekitar 2,32 juta ton, hampir mencapai target produksi 2015, yaitu 2,4 juta ton.

    Menurut Muzakir, target produksi sangat mungkin terpenuhi dengan harapan Undang-Undang Desa harus mampu memperkuat pengembangan sektor pertanian di Aceh.

    "Dengan adanya dukungan dana desa, berbagai potensi pertanian yang ada di desa dapat dikembangkan untuk meningkatkan sektor pertanian," ujarnya.

    Untuk mengembangkan produktivitas tanaman pangan, Pemprov Aceh mendorong masyarakat desa meningkatkan aktivitas pertanian melalui program desa, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2015 tentang Desa. Harapan lain, sektor pertanian dapat menyerap lapangan kerja yang lebih besar.

    Dalam seminar tersebut, akademikus Dr Iskandar menjelaskan, permasalahan utama yang dihadapi para petani adalah pada hilir, yaitu pemasaran yang belum maksimal. Para petani tidak mampu menjual hasil pertanian dengan harga yang sesuai. Bahkan, ucap dia, ketika pertanian memasuki masa panen, harga pasaran jatuh.

    “Mahasiswa harus mampu menangani masalah ini dengan cara menciptakan mekanisme-mekanisme pemasaran yang efektif, sehingga hasil pertanian dapat dipasarkan maksimal,” tutur Iskandar.

    ADI WARSIDI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.