Wagub DKI: Hasil Plastik Berbayar Untuk Benahi Lingkungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kasir mengemas makanan yang dibeli konsumen dengan menggunakan kantong plastik berbayar di salah satu mini market di Manggarai, Jakarta, 21 Februari 2016. Program ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Petugas kasir mengemas makanan yang dibeli konsumen dengan menggunakan kantong plastik berbayar di salah satu mini market di Manggarai, Jakarta, 21 Februari 2016. Program ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Terkait penerapan kantong plastik berbayar Rp 5.000 di DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan hasil dari pembayaran tersebut akan didonasikan dalam rangka penyelamatan lingkungan.

    Nah, duitnya akan dikembalikan lagi bagi penyelamatan lingkungan. Dalam bentuk macam-macam, membuat pelatihan membuat kompos, membersihkan sungai, membersihkan sampah-sampah plastik," jelasnya, Selasa, 23 Februari 2016.

    Dengan kata lain, program tersebut dapat membantu pabrik plastik agar dapat membuat plastik yang bisa terurai atau biodegradable. "Nanti kita pikirkan masuk pendapatan daerah di pos mana, mungkin di pos lain-lain. Atau masuk dalam donasi sosial yang akan kita kembalikan ke masyarakat miskin. Tapi yang jelas adalah warga harus bawa sendiri tas belanjaan dari rumah," katanya.

    Djarot menegaskan dengan adanya penerapan kebijakan ini tak berpengaruh dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran pada pabrik plastik.

    "Pabrik tetap harus jalan dong , pabriknya diberi kesempatan untuk beralih membuat atau memproduksi tas plastik yang bisa terurai atau biodegradable. Ini harus lintas, bukannya DKI saja, tapi pemerintah pusat juga," tambahnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.