13 Organisasi Petani Menolak Benih Transgenik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jumari, 40 tahun, petani asal Desa/Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menunjukkan hasil padi dari benih Wisanggeni yang ditemukannya. TEMPO/Ishomuddin

    Jumari, 40 tahun, petani asal Desa/Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menunjukkan hasil padi dari benih Wisanggeni yang ditemukannya. TEMPO/Ishomuddin

    TEMPO.CO, Jakarta - Sedikitnya 13 organisasi petani dan sipil menolak rencana pemerintah yang berencana menggunakan benih transgenik.

    Penolakan itu disampaikan karena  benih transgenik diduga bermasalah dari segi keamanan pangan dan menimbulkan ketergantungan baru pada petani. Muhammad Rifai dari Aliansi Petani Indonesia menuturkan penggunaan benih transgenik akan menggeser model pertanian, yang sebelumnya multikultur menjadi monokultur.

    Tak hanya itu, benih transgenik juga bermasalah dari sisi keamanan, kesehatan, dan pertanian berkelanjutan. "Rencana pemerintah, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Koordinator Perekonomian mendorong pelepasan dan penggunaan benih transgenik bertentangan dengan prinsip kedaulatan pangan, bertentangan juga dengan program Nawa Cita dari Presiden Joko Widodo," kata Rifai dalam rilis bersama pada hari ini, Selasa, 23 Februari 2016.

    Dia menuturkan benih tersebut juga akan menimbulkan ketergantungan baru bagi para petani terhadap benih-benih transgenik. Hal itu, ia berujar, akan mengancam desa-desa yang selama ini mengembangkan proses pembangunan pertanian organik.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.