Pertamina Ajukan Dua Opsi Kemitraan Kilang Bontang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - PT Pertamina (Persero) belum bisa memastikan keikutsertaannya dalam pembangunan kilang Bontang, Kalimantan Timur. Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan Pertamina masih fokus mencari mitra pembangunan kilang baru di Tuban, Jawa Timur. 
    "Itu kan program pemerintah. Kami concern untuk di Tuban," ujar Dwi di DPR, Senin malam lalu.

    Pertamina diketahui menjadi Penanggung Jawab Pelaksana Pembangunan Kilang (PJPK) sesuai dengan Peraturan Presiden tentang Percepatan Pembangunan Kilang. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merespons beleid ini dengan mematok rencana pembangunan dua kilang baru, yakni Bontang dan Arun.

    Meski masih ragu, Pertamina tetap berminat memiliki kilang Bontang. Pemerintah diharapkan menerapkan skema build operate transfer (BOT) kepada mitra selama jangka waktu tertentu. Tujuannya supaya kilang Bontang seluruhnya menjadi milik Pertamina.

    Opsi lainnya adalah Pertamina diberi kesempatan untuk mengambil sebagian kepemilikan kilang (chip in). Namun Dwi belum menyebut dana yang disiapkan. "Saya belum tahu chip in berapa. Yang jelas kalau sekarang kami enggak punya kemampuan." 

    Baca Juga: Garap Proyek Kilang Bontang, Pertamina akan Gandeng Investor

    Pertamina juga menganggap ada potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan terkait dengan rencana pembangunan kilang Arun. Dwi bilang kapasitas kilang setidaknya bisa menyentuh 150 ribu barel minyak per hari. "Entah swasta atau siapa yang bangun, kami melihat ada potensi kerja sama," ujar Dwi.

    Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral I Gusti Nyoman Wiratmaja menargetkan pencarian mitra untuk pembangunan kilang melalui lelang bisa dimulai Juni mendatang. Sedangkan duit menjadi urusan Kementerian Keuangan.

    Wiratmadja mengemukakan pembangunan kilang saat ini tidak hanya berfokus pada pengolahan minyak bumi menjadi bahan bakar. Rencananya, kilang baru mampu memproduksi produk petrokimia ataupun keluaran lain sehingga angka pengembalian investasinya moncer.

    "Kalau internal rate of return (IRR) sedikit, investor tidak mau. Apalagi harga minyak seperti ini," ujar Wiratmaja, pekan lalu.

    ROBBY IRFANY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.