Harga Minyak Dunia Jeblok, Pengusaha Migas Menjerit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Hasan Jamali

    AP/Hasan Jamali

    TEMPO.COJakarta - Pemerintah diminta segera memberi kepastian terkait dengan jebloknya harga minyak dunia, yang berdampak pada memerahnya bisnis penunjang minyak dan gas bumi. Berdasarkan data Kamar Dagang Industri Indonesia, ongkos produksi minyak di Indonesia rata-rata US$ 29 per barel, lebih tinggi dari sejumlah negara lain. 

    Ongkos produksi minyak di Rusia sebesar US$ 17,2; Iran US$ 12,6; Uni Emirat Arab US$ 12,3; Irak US$ 10,7; Arab senilai US$ 9,9; dan Kuwait yang hanya US$ 8,5 per barel. Sedangkan negara dengan ongkos produksi termahal, yakni Inggris senilai US$ 52,5; Brasil US$ 48,8; Kanada US$ 41; Amerika Serikat US$ 36,2; dan Norwegia US$ 36,1 per barelnya.

    Wakil Ketua Kadin bidang Energi dan Migas Bobby Gafur Umar mengatakan rendahnya harga minyak tak hanya memukul perusahaan migas. Industri penunjang, seperti penyedia jasa migas melalui konsultan, pengeboran, hingga infrastruktur berupa pipa, juga merasakan dampak yang sama. 

    Perusahaan migas melakukan efisiensi berupa pengurangan dan penundaan kegiatan. Kadin meminta pemerintah segera memberikan kepastian usaha melalui kebijakan yang bisa menyelamatkan industri hulu migas.

    "Perlu ada kebijakan untuk membantu para pelaku usaha migas agar bisa bertahan dari minimnya investasi baru dan eksplorasi migas," ujarnya dalam jumpa pers di Pabrik Pipa PT Bakrie Pipe Industries, Bekasi, Senin, 22 Februari 2016.

    Kendati harga terpaksa dikurangi, permintaan tetap surut. Pasalnya, meski mengalami pelambatan ekonomi, Cina memiliki kapasitas berlebih dari sisi pipa besi dan baja. Sebagai gambaran, dari harga semula US$ 1.700 hingga US$ 1.800 per metrik ton, kini hanya bisa dijual maksimal US$ 700.

    Satu sisi, industri dalam negeri harus menelan ongkos energi yang mahal untuk produksinya. Belum lagi biaya logistik dan infrastruktur yang belum siap, serta tingginya suku bunga yang membuat beban usaha kian bertambah. "Sekarang di angka US$ 600 sampai US$ 700. Profitabilitasnya kecil," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!