Arief Optimistis Indonesia Masuk 30 Terbaik Wisata Dunia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menpar Arief Yahya menyusuri kawasan wisata Raja Ampat dalam rangkaian kunjungannya ke Papua Barat, 1 Januari 2016. ANTARA/HO/Setpres-Agus Suparto

    Presiden Joko Widodo (kanan) bersama Menpar Arief Yahya menyusuri kawasan wisata Raja Ampat dalam rangkaian kunjungannya ke Papua Barat, 1 Januari 2016. ANTARA/HO/Setpres-Agus Suparto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya memperkirakan, pada 2019, sektor pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar Indonesia. Menurut dia, hal ini harus diimbangi manajemen yang tepat untuk meletakkan sumber daya, waktu, dan anggaran negara yang terbatas. "Kalau sampai salah, bisa mislead," ujarnya saat berkunjung ke kantor Tempo pada Kamis, 18 Februari 2016.

    Dari sisi penerimaan devisa, ia menjelaskan, Indonesia mendapatkan devisa sebesar US$ 10 miliar. Nilai itu jauh di bawah Malaysia, yang devisanya mencapai US$ 20 miliar, dan Thailand, sebesar US$ 40 miliar. "Kalau 2 tahun bisa ngalahin Malaysia, pariwisata bisa menjadi penghasil devisa terbesar," katanya. Sebab, pariwisata merupakan industri yang paling cepat tumbuh.

    Ia mengatakan sektor pariwisata di dunia menyumbang PDB (produk domestik bruto) dunia sebesar 10 persen. Menurut dia, bisnis pariwisata juga harus dibandingkan dengan pasar serta persaingan dengan negara lain. Apabila lebih rendah daripada pasar, pariwisata akan mati. "Baik dari sustainability dan keuntungan," ucapnya.

    Ia mengatakan, pada 2015, sektor pariwisata telah meningkatkan lapangan kerja sebesar 9 persen. GDP sektor pariwisata, kata dia, memiliki posisi yang tidak terlalu buruk serta menyamai sektor perbankan, otomotif, dan farmasi, tapi berkontribusi besar terhadap devisa. "PDB Indonesia 9 persen. Tapi masih berada di bawah rata-rata dunia yang 10 persen," katanya.

    GDP pariwisata Indonesia, ujar Arif, masih berada di bawah Malaysia, yang sebesar 16 persen dan Thailand, sebesar 60 persen. Arief menargetkan Indonesia dapat menyalip posisi Malaysia dalam 2 tahun dan Thailand dalam kurun 4 tahun. "ASEAN punya Thailand karena performance mereka sangat bagus, kalau Indonesia punya Bali," tuturnya.

    Pada 2015, kata Arief, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekitar 9 juta orang. Jauh bila dibandingkan dengan Malaysia, yang mendapat 27 juta kunjungan, dan Thailand, yang mencapai 25 juta kunjungan. Menurut dia, dengan sumber daya yang ada di Indonesia, ada fundamental pengelolaan bisnis yang salah. "Biasanya terkait dengan regulasi karena, impact dari regulasi, kesalahannya mencapai 50 persen," ujarnya.

    Selain itu, kata Arief, pariwisata Indonesia telah menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 3,3 juta orang dan 10 juta tenaga kerja tidak langsung dengan 8,4 persen. Namun, menurut dia, posisi itu masih di bawah rata-rata dunia sebesar 9 persen. 

    Dengan persentase ini, kata dia, Indonesia masih berada di bawah Malaysia, yang mencapai 13 persen, dan Thailand, 14,1 persen. "Artinya, pariwisata belum men-drive yang indirect dan in use industrinya," katanya.

    Berdasarkan World Economic Forum Travel and Tourism Competitive Index pada 2013, Indonesia berada di urutan ke-70 dari 141 negara. Namun Arief mengatakan, dalam kurun dua tahun, Indonesia merangkak naik ke posisi ke-50 dunia. 

    Pada saat yang sama, Malaysia memperbaiki posisi dari peringkat ke-34 menjadi ke-25 dan Thailand dari ke-43 menjadi ke-35. "Indonesia cukup bagus, 2019 target ranking 30," ujarnya.

    ARKHELAUS W


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.