Akibat El Nino Pasar Benih Hortikultura Turun 5 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua petani mengemas buah apel yang baru saja dipanen di Desa  Andonosari,  Kecamatan Tutur (Nongkojajar), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (1/4). ANTARA/Musyawir

    Dua petani mengemas buah apel yang baru saja dipanen di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur (Nongkojajar), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (1/4). ANTARA/Musyawir

    TEMPO.COJakarta - Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo) menyatakan fenomena kemarau panjang El Nino yang terjadi pada 2015 telah memukul sektor industri perbenihan hortikultura. Akibatnya, produksi pangan, khususnya sayuran, di sejumlah lumbung pangan nasional menurun. 

    "Hal ini antara lain ditunjukkan dari menurunnya pangsa pasar benih hortikultura sekitar 5 persen," kata Ketua Umum Hortindo Afrizal Gindow di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2016.

    Menurut dia, petani memilih tidak menanam sayuran akibat musim kering yang berkepanjangan tahun lalu. Imbasnya, perusahaan yang memproduksi dan menjual benih hibrida kesulitan untuk melanjutkan usaha.

    Di sisi lain, produksi benih pada 2015 justru terjadi peningkatan antara 30 persen sampai 35 persen jika dibandingkan dengan produksi benih di 2014. Hal ini membuat stok benih menjadi berlebih dan tidak terserap pasar. "Karena itu, kami berharap tahun 2016 pangsa pasar benih hortikultura dapat meningkat 5-7 persen," kata Afrizal. 

    Menurut Afrizal, penggunaan benih hibrida sangat penting untuk petani. Selain dapat meningkatkan produktivitas, penggunaan benih hibrida dapat mengurangi biaya produksi karena benih yang ditanam tahan terhadap serangan penyakit. 

    Kualitas produk yang dihasilkan petani juga akan mampu bersaing dengan kualitas produk hortikultura, khususnya sayuran petani dari negara lain.

    Afrizal mencontohkan produk hortikultura, yakni labu madu, yang saat ini benihnya sudah diproduksi oleh salah satu anggota Hortindo sehingga dapat ditanam oleh petani di Indonesia. 

    Selama ini, labu yang diyakini memiliki manfaat tinggi bagi penderita diabetes tersebut banyak diimpor dari sejumlah negara dengan harga yang sangat tinggi. 

    "Biaya yang dikeluarkan petani untuk menggunakan benih hibrida yang berkualitas tidak lebih dari 3 persen dari total biaya produksi. Jika dibandingkan dengan hasil yang didapatkan petani, penggunaan benih hibrida sangat menguntungkan bagi petani," tutur Afrizal.

    Jika dilihat dari sisi pasar produk hortikultura sendiri, permintaan pasar di Indonesia masih sangat tinggi. Selain jumlah penduduk yang besar, penduduk kelas menengah yang saat ini mencapai 56,5 persen dari total penduduk Indonesia yang hampir mencapai 250 juta jiwa mendorong peningkatan permintaan terhadap produk hortikultura berkualitas.

    Afrizal mengingatkan tingginya permintaan produk hortikultura jika tidak diantisipasi akan membuat nilai impor komoditas ini akan semakin besar. Salah satu penyebab kalahnya produk hortikultura Indonesia dibandingkan dengan produk impor adalah akses terhadap benih unggul berkualitas. 

    Penyebab lain adalah minimnya lahan produksi hortikultura, khususnya sayuran. Menurut Afrizal, dari tahun ke tahun Indonesia masih terkendala masalah luas lahan pertanian sayuran yang jauh tertinggal dari sejumlah negara lain.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.