IHSG dan Rupiah Menguat, Terkena Imbas BI Rate

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar elektronik Indeks Harga Saham Gabungan, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 16 Januari 2015. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Layar elektronik Indeks Harga Saham Gabungan, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 16 Januari 2015. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - -Indeks Harga Saham Gabungan setelah bergerak konsolidasi akhirnya ditutup di zona positif dengan kenaikan tipis 13,29 poin (0,28 persen) di level 4.778,79.

    Penguatan indeks saham ditopang oleh sektor konsumer yang naik 14,53 poin atau 0,6 persen di level 2.300,92. Kenaikan juga terjadi di sektor infrastruktur, industri dasar dan manufaktur. Sedangkan untuk sektor agri tergerus 1,1 persen atau turun 19,17 poin di level 1.769,49 Disusul sektor properti yang turun 0,8 persen atau 3,68 poin di level 484,91.

    Menurut analis  dari First Asia Capital David Sutyanto, penguatan IHSG  merupakan imbas positif  dari Rapat Dewan Gubernur BI (RDG) yang hari ini mengumumkan penurunan suku bunga acuan (Bi rate) sebesar 25 basis poin dari 7,25 menjadi  7 persen.

    "Ini jelas karena saat ini bank-bank sentral sudah melakukan stimulus sedangkan di Indonesia belum ada. Nah apa yang dilakukan BI dengan menurunkan BI rate membuat pasar terstimulus," kata David Sutyanto saat dihubungi Tempo pada Kamis 18 Februari 2016.

    Baca:  Menko Darmin Sebut Tren Suku Bunga Bergerak Turun

    Terkait saham sektor agri yang ada di zona merah, David menyebutkan, akibat harga CPO yang saat ini masih fluktuatif. "Tadi saya lihat itu di angka 2.613 kemudian sekarang di angka 2.580, jadi karena fluktuatif mereka switching ke sektor lain," ucapnya.

    Rupiah juga terkena imbas positif penurunan BI rate. Dikutip dari situs BI, rupiah menguat terhadap dolar Amerika sebesar 7 persen atau 25 poin dari  Rp 13.504 menjadi Rp 13.479.

    Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan berada di level 7 persen atau turun 25 basis poin. Penurunan ini merupakan lanjutan setelah pada RDG Januari lalu suku bunga acuan dipangkas menjadi 7,25 persen, setelah bertahan selama 11 bulan di level 7,5 persen.

    Keputusan penurunan suku bunga acuan tersebut berdasarkan pertimbangan akan terjaganya stabilitas makro ekonomi seperti redanya inflasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    DESTRIANITA K


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?