Kebutuhan Energi Indonesia Tertinggi di ASEAN

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas produksi energi panas bumi yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy area Ulubelu, Lampung, 14 Desember 2015. Fasilitas produksi energi panas bumi Ulubelu mampu menyuplai kebutuhan listrik sebesar 110 MegaWatt. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Fasilitas produksi energi panas bumi yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy area Ulubelu, Lampung, 14 Desember 2015. Fasilitas produksi energi panas bumi Ulubelu mampu menyuplai kebutuhan listrik sebesar 110 MegaWatt. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia menjadi negara terbesar dalam kebutuhan energi di Asia Tenggara mencapai 44% dari total kebutuhan energi di kawasan tersebut disusul Malaysia sebesar 23% dan Thailand 20%.

    Data Asean Center for Energy juga mengungkap bahwa energi fosil diperkirakan akan mendominasi permintaan energi di kawasan tersebut mencapai 80% pada 2030 atau di atas realiasi pada 2011 sebesar 76%.

    Sedangkan sektor industri diperkirakan tetap mendominasi pertumbuhan permintaan energi fosil tersebut dengan penaikan sekitar 2,7% per tahun hingga 2035 mendatang.

    Perkembangan kebutuhan energi itu dibahas dalam forum diskusi Shell Indonesia Technology Conference 2016 yang diselenggarakan oleh PT Shell Indonesia di Jakarta, pada Rabu-Kamis (17-18 Februari 2016) ini.

    Forum tersebut juga membahas data yang dilansir Dewan Energi Nasional (DEN) tentang kebutuhan energi nasional Indonesia yang akan mencapai 2,41 juta setara barel minyak (SBM) pada 2025.

    Perkiraaan jumlah tersebut meningkat sekitar 84% dari total kebutuhan energi nasional pada 2013 yang hanya mencapai 1,243 juta SBM, yang sebagian besar masih didominasi oleh energi fosil.

    Adapun kontribusi energi fosil pada 2013 mencapai 94.6 % dari total kebutuhan/konsumsi energi nasional sebanyak 1.357 juta SBM, terdiri dari minyak sebesar 44,0%, gas alam 21,9%, dan batubara 28,7%. Sedangkan sisanya sekitar 5,5 % dipasok dari energi baru dan terbarukan (EBT).

    Dian Andyasuri, Director of Lubricant PT Shell Indonesia, mengatakan kondisi tersebut dibahas dalam forum yang digelar untuk membantu para pebisnis memahami bagaimana tantangan energi yang dihadapi dunia, termasuk Indonesia.

    “Selain itu juga tentang kepemimpinan Shell dalam teknologi di bidang energi termasuk pelumas yang dapat meningkatkan kinerja bisnis mereka,” katanya dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Kamis (18 Februari 2016).

    Menurutnya, forum juga memberikan gambaran mengenai bagaimana perencanaan skenario Shell dapat membantu memberikan berbagai solusi energi yang berbeda untuk setiap negara dengan cara dan waktu yang berbeda pula.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.