Petani Kopi Minta Insentif Ekspor, Karena...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memperlihatkan biji kopi usai dipanen di perkebunan Paradise Lost di Kiambu, Kenya, 10 November 2015. Industri kopi Kenya menargetkan hasil panen tahun 2016 meningkat hingga 50.000 metrik ton. REUTERS/Siegfried Modola

    Petani memperlihatkan biji kopi usai dipanen di perkebunan Paradise Lost di Kiambu, Kenya, 10 November 2015. Industri kopi Kenya menargetkan hasil panen tahun 2016 meningkat hingga 50.000 metrik ton. REUTERS/Siegfried Modola

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan petani kopi di Jawa Barat meminta pemerintah memberi insentif agar bisa ekspor langsung.

    Ketua Asosiasi Petani dan Pengusaha Kopi Jabar Enjang Rukmana mengatakan selama ini ekspor kopi masih mengandalkan pintu Medan dan Surabaya, karena untuk ekspor langsung dari Jabar membutuhkan modal besar.

    Menurutnya, ekspor kopi melalui Surabaya dan Medan sebenarnya kurang menguntungkan karena keuntungan yang didapatkan petani relatif rendah.

    "Oleh karena itu, kami membutuhkan insentif agar bisa ekspor langsung, dan petani bisa menikmati keuntungan lebih baik di saat tingginya harga kopi," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17 Februari 2016).

    Dia menjelaskan permintaan kopi dari luar negeri cukup besar, baik dari negara-negara di Asia, Eropa serta Amerika. Akan tetapi, upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan kopi dinilai belum maksimal sehingga peluang pasar ekspor tersebut tidak bisa digarap.

    Saat ini volume produksi kopi asal Jabar sekitar 10.000 ton per panen, dengan kualitas yang tak kalah dibandingkan dengan kopi asal Brazil.

    Dia memproyeksikan produksi kopi tahun ini bakal meningkat 10%, setelah mengamati perkembangan buah kopi di lapangan. "Pemerintah juga perlu membantu memperluas akses pasar ekspor, jangan hanya menunggu dari perusahaan yang akan mengajukan ekspor."

    Kendati demikian, pihaknya mengapresiasi Pemprov Jabar yang sudah memberikan jutaan bibit kopi kepada petani, yang diikuti dengan pengawasan dan pembinaan langsung di lapangan.

    Menurutnya, beberapa tahun ke belakang program pembagian bibit gratis sering tidak tepat sasaran. "Sekarang pemerintah sudah melangkah dengan benar karena terjun langsung ke lapangan," ujarnya.

    Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggalakkan sertifikasi pembenihan bibit kopi guna menghasilkan komoditas bermutu tinggi di pasar internasional.

    Menurutnya, benih merupakan penentu awal peningkatan produksi perkebunan, sehingga proses sertifikasi dan pengawasan mutu benihnya harus terus ditingkatkan. "Tujuannya agar memberikan kepastian usaha bagi produsen dan pengedar benih," ujarnya.

    BP2MB telah melakukan sertifikasi dan pengawasan mutu benih kopi pada 2015 sebanyak 2 juta pohon. Bibit tersebut secara berkala disebar kepada petani agar hasil produksinya lebih berkualitas.

    "Ada tiga sumber benih untuk pengujian laboratorium dan lolos sebagai benih siap edar sebanyak 2 juta pohon, serta sudah dikeluarkan surat pengujian hasil mutu benih," ujarnya.

    Adapun pemberian benih dilakukan sejak Oktober 2015 hingga beberapa bulan ke depan yang disebar secara bertahap.

    Pada perkembangan terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jabar Iyus Supriatna menjelaskan Jabar masih butuh waktu agar bisa ekspor kopi langsung dalam jumlah besar.

    Oleh karena itu, komitmen antara petani, pengusaha, dan pemerintah harus terjalin, agar ekspor langsung tersebut memberikan kontribusi besar bagi pendapatan.

    "Surat untuk eskpor langsung sudah dibuat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar. Namun, beberapa kendala belum bisa diatasi sehingga kegiatan ini berpotensi molor hingga beberapa tahun ke depan," ungkapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...