Indeks Saham Menguat, Properti Jadi Penyumbang Terbesar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 20,50 poin atau 0,43 persen di level 4.765,51 poin  dari penutupan hari sebelumnya. IHSG dibuka pada level 4.738,42 dan sempat berada pada level tertinggi di angka 4.774,46 serta level terendah pada posisi 4.737,42 poin.

    Penguatan indeks terutama ditopang sektor properti yang menguat hingga 1,2 persen atau 5,69 poin di angka 488,59. Disusul sektor konsumer dan manufaktur, masing-masing naik 0,5 persen. Konsumer menguat 11,45 poin di angka 2.286,39 dan sektor manufaktur menguat 6,87 poin di level 1.261,09.

    Menurut analis ekonomi dari First Asia Capital, David Sutyanto, kenaikan IHSG dipicu sentimen dari faktor eksternal, yakni tertahannya harga minyak, serta faktor internal, yaitu adanya potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia.

    "Yang pertama, harga minyak yang mulai tertahan. Kedua, adanya potensi penurunan BI Rate yang membuat market bergairah hari ini," ucapnya saat dihubungi pada Rabu, 17 Desember 2016.

    Beberapa sektor  mengalami penurunan. Antara lain sektor agri yang turun 0,4 persen atau 6,56 poin di level 1.788,66. Disusul sektor industri dasar dan infrastruktur masing-masing 0,1 persen di angka 417,96 dan 1.003,72.

    Menurut David, pelemahan di tiga sektor tersebut hanya terjadi sementara karena, saat sentimen sedang bagus, banyak yang melakukan aksi ambil untung dengan menjual sahamnya dan berpindah ke sektor lain. "Biasanya begitu, kalau sentimen bagus, banyak yang profit taking, lalu profit switching pada sektor tertentu," ujarnya.

    DESTRIANITA K


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.