Diduga Ada Orientasi Bisnis dalam Stiker LGBT Line

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Stiker Gay di aplikasi chatting Line. Foto: Line

    Stiker Gay di aplikasi chatting Line. Foto: Line

    TEMPO.COJakarta - Direktur Eksekutif Yayasan Nawala Nusantara M. Yamin menilai ada pihak yang mencari kesempatan dan mendiskreditkan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) pada stiker yang dijual di platform Line.

    "Saya melihat ada konten yang tidak pantas, itu juga ada unsur tertentu di belakangnya," katanya dalam rapat panel bersama penyedia konten Internet (over the top/OTT) di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu, 17 Februari 2016.

    Yamin menyatakan tidak mendiskriminasi kreativitas. Namun kebebasan dalam berekspresi harus menghargai kebebasan orang lain. Ia melihat hal itu sebagai orientasi bisnis dan mempertanyakan pencipta stiker LGBT yang sempat menghebohkan netizen beberapa waktu lalu tersebut. 

    "Apakah teman-teman LGBT yang minta? Bukan. Apakah yang buat LGBT juga? Bukan. Saya yakin mereka juga tidak mau dibenturkan seperti itu," tuturnya.

    Head of Public Relations Line Indonesia Teddy Arifianto, yang hadir dalam rapat panel tersebut, menyatakan Line merupakan platform global yang membebaskan orang dengan bakat desain untuk menjual karyanya. 

    "Sebagai perusahaan global, Line punya posisi non-diskriminasi dan kesetaraan," katanya.

    Untuk masalah stiker LGBT Line Indonesia, Teddy mengatakan, hal itu sudah diatasi dengan pertimbangan kontennya harus disesuaikan dengan kearifan lokal. Stiker serupa, kata dia, jumlahnya banyak dan perlu sosialisasi kepada para kreator global. Ia pun mengklaim sudah menyiapkan solusi baru untuk menerapkannya. 

    "Ada self filtering baru mulai pekan ini. Kami juga sudah berkoordinasi dengan kreator global," ucapnya.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?