Kamis, 15 November 2018

Nelayan Kecil Dilibatkan dalam Konservasi Laut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deretan rumah terapung di perkampungan Bajo Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 08 Agustus 2015. Sebagian besar warga suku Bajo di Wakatobi masih mempertahankan tradisi hidup di atas palema atau perahu beratap rumbia. TEMPO/Iqbal Lubis

    Deretan rumah terapung di perkampungan Bajo Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 08 Agustus 2015. Sebagian besar warga suku Bajo di Wakatobi masih mempertahankan tradisi hidup di atas palema atau perahu beratap rumbia. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.COJakarta - Kawasan konservasi laut Indonesia saat ini mencapai 17,3 juta hektare. Pemerintah menargetkan penambahan luas kawasan perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan laut itu hingga mencapai 20 juta hektare pada 2020.

    Pelaksana tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, menyatakan kawasan konservasi itu akan dikelola dalam sistem zonasi sehingga dapat memberi nilai tambah bagi nelayan kecil. “Mereka harus dilibatkan dalam konservasi. Sebab, pada dasarnya, jika mereka tak ikut memiliki laut, mereka tak akan mau ikut menjaganya,” kata Slamet di Hotel Aryaduta, Rabu, 17 Februari 2016.

    Saat ini, terdapat 2,7 juta nelayan di Indonesia. Sebanyak 95,6 persen di antaranya merupakan nelayan kecil yang beroperasi di sekitar pesisir dan harus bersaing dengan nelayan besar dengan perangkat yang lebih canggih.

    Di pihak lain, keberlanjutan konservasi tak akan berarti tanpa keterlibatan masyarakat. “Untuk itu, wajar jika mereka diberi hak khusus untuk ikut mengelola dan memanfaatkan kawasan konservasi,” kata Slamet.

    Untuk melibatkan nelayan kecil dalam konservasi laut ini, pemerintah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat yang bermarkas di Amerika Serikat, Rare, dalam “Kampanye Pride”.

    Program kampanye ini bertujuan untuk membuat masyarakat turut merasa bangga (pride) ikut melestarikan lingkungan. “Rare melalui mitra kami mempromosikan perubahan perilaku untuk memperoleh komitmen terkait dengan pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan,” kata Vice President Rare Indonesia Taufiq Alimi.

    Selama 30 tahun, Rare telah bekerja di 90 situs konservasi di 30 negara. Di Indonesia, melalui Kampanye Pride, mereka akan menggandeng 15 lembaga swadaya masyarakat lain untuk turut melestarikan lingkungan di 15 kawasan konservasi, yakni:

    1. Perairan Teluk Kolono, Konawe Selatan
    2. Daerah Perlindungan Laut Liya Togo
    3. Taman Nasional Wakatobi
    4. Taman Nasional Bunaken
    5. Taman Nasional Taka Bonerate
    6. Perairan Teluk Bumbang
    7. Taman Wisata Perairan Gili Matra
    8. Taman Wisata Perairan Laut Banda
    9. Kawasan Konservasi Perairan Timur Pulau Weh
    10. Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas
    11. Taman Nasional Kepulauan Seribu
    12. Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kaimana
    13. Perairan di bawah pengelolaan Kabupaten Demak
    14. Taman Nasional Karimunjawa
    15. Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Mayalibit

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.