Industri Nonmigas Dirancang Tumbuh 8,4 Persen pada 2019  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perindustrian Saleh Husin saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat,26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Perindustrian Saleh Husin saat mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat,26 November 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Perindustrian membidik peningkatan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas hingga 8,4 persen pada 2019. Peningkatan ini akan memberi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 19,4 persen.

    "Ini harus dilakukan demi penguatan struktur industri melalui pembangunan hulu yang diintegrasikan dengan industri hilirnya," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam Rapat Kerja Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa, 16 Februari 2016.

    Dengan demikian, Saleh melanjutkan, sektor industri akan menyerap tenaga kerja di sektor nonmigas sebesar 17,8 juta orang pada 2019. Menurut Saleh, peningkatan nilai tambah sumber daya alam pada industri hulu berbasis agro, mineral, serta migas dan batu bara menjadi kebijakan pengembangan industri nasional.

    Sumber daya industri juga akan didorong demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor industri rata-rata 600 ribu orang per tahun, pertumbuhan 20 ribu wiraswasta industri kecil dan 4.500 usaha baru industri skala menengah, serta sertifikasi tenaga kerja dan calon tenaga kerja.

    "Kebutuhan modal yang besar untuk mengembangkan industri hulu dan hilir juga menjadi konsentrasi Kementerian," kata Saleh.

    Untuk itu, diperlukan penyediaan sumber pembiayaan industri melalui penanaman modal pemerintah dalam pembangunan industri hulu dan industri strategis, serta pemberian subsidi bunga pinjaman bagi industri prioritas.

    Kementerian Perindustrian telah menetapkan 10 industri prioritas meliputi industri pangan; farmasi, kosmetik, alat kesehatan; tekstil, kulit, alas kaki, dan aneka; alat transportasi; serta elektronika dan telematika.

    Selain itu, ada industri pembangkit energi; barang modal, komponen, bahan penolong, dan jasa industri; industri hulu agro logam dasar dan bahan galian bukan logam; serta kimia dasar berbasis migas dan batu bara.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.