Nilai Ekspor di 13 Negara Tujuan Utama Indonesia Turun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perajin merangkai miniatur kapal di dalam botol kaca di Ngaglik, Klaten, Jawa Tengah, 11 November 2015. Kerajinan ini diekspor ke Amerika dan Turki. TEMPO/Bram Selo Agung

    Perajin merangkai miniatur kapal di dalam botol kaca di Ngaglik, Klaten, Jawa Tengah, 11 November 2015. Kerajinan ini diekspor ke Amerika dan Turki. TEMPO/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Jakarta -  Badan Pusat Statistik mencatat terjadi penurunan ekspor non-minyak dan gas pada Januari 2016 jika dibandingkan dengan Desember 2015 di sebagian besar negara tujuan utama. Nilai ekspor ke Cina misalnya, turun 27,74 persen menjadi US$ 340,4 juta.

    Lalu, ekspor ke India turun menjadi US$ 218 juta (24,77 persen), Jepang US$ 140,1 juta (11,84 persen), dan Amerika Serikat US$ 92,9 persen juta (7,02 persen).

    Berikutnya adalah ekspor ke Belanda turun menjadi US$ 84,7 juta (27,57 persen), Singapura US$ 61,9 juta (9,25 persen), Malaysia US$ 59 juta (12,28 persen), Korea Selatan US$ 26,2 juta (6,01 persen), Australia US$ 15,8 juta (8,75 persen), dan Jerman US$ 14,4 juta (6,34 persen).

    Sebaliknya, ekspor ke Thailand naik 4,39 persen menjadi US$ 14,2 juta, ekspor ke Italia naik menjadi US$ 12,2 juta (9,65 persen), dan Taiwan naik menjadi US$ 1,9 juta (0,89 persen).

    Secara total, ekspor ke-13 negara tujuan utama Indonesia pada Januari 2016 turun 13,52 persen. Ekspor ke Uni Eropa atau 27 negara pada Januari 2016 mencapai US$ 1.164,8 juta.

    Nilai ekspor Indonesia pada Januari 2016 adalah US$ 10,50 miliar atau turun 11,88 persen dibanding Desember 2015. Nilai ekspor Januari 2016 juga turun jika dibandingkan Januari 2015, yaitu turun sebanyak 2,72 persen.

    "Nilai ekspor migas dan nonmigas, kedua-duanya terjadi penurunan," kata Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin, 15 Februari 2016.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.