Harga Minyak Dunia Rendah, Ini Harus Diperhatikan Pemerintah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Sue Ogrocki

    AP/Sue Ogrocki

    TEMPO.CO, Jakarta -- Pakar sekaligus praktisi bidang energi dari Institute Teknologi Surabaya Agus Budi Hartono turunnya harga minyak belum dinikmati masyarakat. Agus berujar, kondisi harga minyak dunia saat ini masih fluktuatif dan membuat pengembang di sektor industri migas stagnan.

    "Yang bahaya saat nanti harga minyak naik, yang seharusnya berlanjut bisa lebih ketika demand tinggi akhirnya tidak terkejar," kata Agus dalam diskusi 'Energi Kita' di Hall Dewan Pers Jakarta, Minggu 14 Februari 2016.

    Agus menjelaskan, mumpung harga minyak dunia rendah, seharusnya pemerintah memanfaatkan dengan membeli minyak sebagai stok. Stok minyak ini akan berguna ketika harga minyak kembali melambung. Permasalahannya, kata dia, pemerintah belum memiliki tempat yang berfungsi sebagai penyimpan stok atau storage.

    Agus mengatakan saat ini masyarakat masih nyaman dengan harga minyak yang rendah. Menurut dia, hal terpenting adalah manfaat dan perhitungan penurunan harga ketika pemerintah memutuskan penyesuaian harga minya. "Sampai seberapa risikonya harus diperhitungkan," kata dia.

    Agus mengingatkan penyesuaian harga harus dihitung kembali dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menurut dia, salah satunya adalah memberi prioritas untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan seperti bahan bakar gas.

    "Jangan terlena karena harga minyak rendah tidak selamanya. Dua tahun mungkin Cina menggeliat lagi, kalau tidak ada persiapan bisa gawat semua," katanya.  (Baca juga: Penurunan Minyak Seret Dolar AS Melemah terhadap Yen)

    Agus menambahkan, pemerintah juga perlu memberi perhatian pada pembangunan energi baru dan terbarukan. Sebab, lifting di sektor pertambangan terus menurun. Ia mencontohkan, Cina telah memiliki tata kelola dan cadangan energi baru dan terbarukan. "Pada 2025, ketika Cina sudah punya renewable energy, kita belum punya apa-apa," ujarnya. (Baca juga: Indef: Pertengahan Februari Harga Minyak Dunia Normal)




    ARKHELAUS WISNU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.