Wapres: Kesenjangan Sosial di Indonesia Sudah Lampu Kuning

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla melihat maket terminal liquid natural gas (LNG) di Celukan Bawang, Bali Utara saat menghadiri Bali Clean Energy Forum 2016 di Nusa Dua, Bali, 11 Februari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    Wakil Presiden Jusuf Kalla melihat maket terminal liquid natural gas (LNG) di Celukan Bawang, Bali Utara saat menghadiri Bali Clean Energy Forum 2016 di Nusa Dua, Bali, 11 Februari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia sudah dalam tahap lampu kuning. Kesenjangan sosial di perkotaan lebih mencolok dibandingkan  di pedesaan.

    "Secara umum bangsa ini mengalami kesenjangan yang mulai menjadi lampu kuning untuk kita semuanya. Artinya harus segera diperbaiki," kata Kalla saat meresmikan Indonesia Property Expo di Jakarta Convention Center, Sabtu, 13 Februari 2016.

    Menurut Kalla, Gini ratio Indonesia khususnya di daerah perkotaan juga meningkat lagi pada tahun ini. Tapi, Gini ratio di wilayah pedesaan justru menurun. "Salah satu yang menyebabkan itu adalah fasilitas yang berbeda antara orang yang mampu dan tidak mampu. Kalau di pedesaan mungkin tidak terlalu kelihatan. Tapi kalau di kota seperti Jakarta, cermin kemiskinan ada di kota besar," katanya.

    Baca: Badan Pengelolaan Tabungan Perumahan Rakyat Segera Dibentuk

    Dengan kondisi seperti ini, Kalla mengatakan pemerintah harus segera memperbaiki masalah kesenjangan sosial yang ada. Jika tidak segera diperbaiki, kesenjangan sosial ini akan menimbulkan masalah sosial yang berat bagi Indonesia. Wapres mengaku prihatin dengan pusat-pusat kesenjangan yang terdapat di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar.

    Untuk menekan kesenjangan sosial, Kalla mengajak kementerian terkait, pengembang perumahan dan bank penyedia kredit untuk menyediakan rumah tidak hanya bagi masyarakat kaya tapi juga untuk masyarakat kecil dan menengah. Ia prihatin dengan kondisi rumah warga miskin dan warga kaya di perkotaan yang berbeda sangat jauh. "Selain program satu juta rumah, kita mempunyai kebijakan yang lebih cepat dilaksanakan di perkotaan agar tidak terjadi masalah yang berat. Orang-orang di daerah kumuh cenderung putus harapan."

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.