Kembangkan Energi Listrik, Asing Perebutkan TPA Denpasar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengoperasikan alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Bekasi, Jawa Barat, 7 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Pekerja mengoperasikan alat berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Bekasi, Jawa Barat, 7 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Investor China, Korsel, dan Jepang berebut untuk mengembangkan energi listrik di lokasi tempat pembuangan akhir Suwung, Denpasar, kendati status hukum pengelolaan lokasi itu masih bermasalah.

    Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Daerah (BPMPD) Bali Ida Bagus Parwata mengungkapkan perwakilan China dan Korsel sudah melakukan presentasi, sedangkan Jepang dalam proses.

    "Semuanya kami terima, tetapi sebatas menerima dulu. Bagaimanapun soal TPA Suwung, harus koordinasi dulu dengan gubernur dan wagub," ujarnya, Jumat (12 Februari 2016).

    ‎Dia menuturkan ketertarikan investor dari tiga negara itu karena potensi sampah di TPA yang dikelola oleh Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita) tersebut. ‎Namun, dirinya lupa kapasitas listrik yang ditawarkan oleh investor tersebut.

    Menurutnya, salah satu investor yang saat ini mengelola TPA Suwung termasuk yang membawa investor baru dari China. Parwata menegaskan meskipun mereka menawarkan investasi, tetapi pihaknya menemukan adanya ganjalan dari tawaran tersebut berupa kewajiban yang dibebankan kepada Pemprov Bali dalam bentuk pembelian emisi karbon.

    "Sepertinya itu yang berat menurut kami, dana dari mana untuk membeli emisi tersebut," jelasnya.

    TPA Suwung yang berlokasi di Denpasar Selatan memiliki luasan lahan 40 Ha, pada saat ini menampung hingga 1.500 ton sampah per hari.‎ Sebagian besar sampah berasal dari Kota Denpasar, dan Kabupaten Badung, sedangkan Gianyar dan Tabanan kontribusinya sangat sedikit.

    ‎Sampah yang ditampung di lokasi ini meningkat 4% setiap tahun, dan saat ini dinilai sudah melebihi kapasitas, karena gundukannya mencapai 15 meter. Di lokasi tersebut, sejatinya sudah ada PT Navigat Organic Energy Indonesia‎ (NOEI) yang bekerjasama dengan Sarbagita untuk menghasilkan listrik. Dalam salah satu klausul kerjasama itu, NOEI menjanjikan energi listrik 10 MW, tetapi versi Pemprov Bali saat ini baru menghasilkan 0,7 MW.

    Sebelumnya, Wagub Bali Ketut Sudikerta mendorong Dinas PU melalui UPT Pengelolaan sampah untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut . Dengan demikian ke depannya sampah yang telah menumpuk di TPA Suwung dapat segera teratasi dan tidak menimbulkan masalah baru.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.