Smelter Berkapasitas 900.000 ton Konsentrat di Papua Digeser

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pabrik peleburan aluminium smelter Rusal Krasnoyarsk di Siberia, Krasnoyarsk, Rusia, 8 Juli 2014. Aluminium raksasa Rusia Rusal memiliki kesepakatan senilai $ 3.600.000.000 untuk restrukturisasi utang dari kreditur keuangan Jerman Portigon AG. Hal ini membawa Rusal, jadi produsen aluminium terbesar di dunia. REUTERS/Ilya Naymushin

    Suasana pabrik peleburan aluminium smelter Rusal Krasnoyarsk di Siberia, Krasnoyarsk, Rusia, 8 Juli 2014. Aluminium raksasa Rusia Rusal memiliki kesepakatan senilai $ 3.600.000.000 untuk restrukturisasi utang dari kreditur keuangan Jerman Portigon AG. Hal ini membawa Rusal, jadi produsen aluminium terbesar di dunia. REUTERS/Ilya Naymushin

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi Papua akhirnya menggeser lokasi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga katoda berkapasitas 900.000 ton konsentrat ke wilayah yang lebih memadai.

    Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan awalnya lokasi memang berada di Poumako, Kabupaten Mimika. Namun, wilayah tapak yang telah dikunjungi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada tahun lalu itu berupa rawa.

    "Kita sudah kasih mundur ke wilayah kering. Memang ada kendala. Investor meminta 200.000 hektar, tetapi kita siapkan 10.000 hektar. Jadi itu yang sedang kami diskusikan," ujarnya di Kompleks Istana Negara, Jumat 12 Februari 2016.

    Kendati demikian, dia menilai lahan sudah siap. Investor, lanjutnya, yang berasal dari Cina sudah mendatangi lokasi tempat didirikannya smelter tembaga katoda. Saat ini, investor tersebut sedang melakukan kajian.

    Sebelumnya, Enembe menegaskan jika lahan untuk smelter tembaga katoda itu telah mendapat dukungan dari seluruh wargaPapua. Dia mengatakan bahwa pembangunan smelter tersebut harus berjalan sesuai rencana yang ditargetkan beroperasi pada 2021.

    Bisnis mencatat perusahaan asal Cina yang tertarik untuk melakukan investasi smelter tembaga di Papua adalah Cina Nonferrous Engineering and Research Institute (ENFI) yang telah mengunjungi lokasi pada April 2015.

    Kala itu, ENFi mengungkapkan kepada Kementerian ESDM bila pembangunan diPapuajauh lebih menantang daripada 23smeltertembaga katoda yang telah mereka bangun di Cina, Chili, dan Zambia.

    Pasalnya, diPapuabelum tersedia infrastruktur dan industri penunjang. Namun, ENFI lebih kompetitif dibandingkan yang lain. Pasalnya perusahaan itu lebih banyak pengembangan teknologi ketimbang pesaingnya seperti AustraliaSmelting(Austsmelt) dan Mitsubishi. Apalagi, teknologi dari ENFI jauh lebih murah 65% hingga 70%.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.