IHSG dan Rupiah Kompak Ditutup Menguat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siluet seorang pengunjung dengan latar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    Siluet seorang pengunjung dengan latar monitor pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 13 November 2015. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini ditutup menguat di level 4.775,86 atau menguat 43,38 poin(0,92 persen) dari perdagangan kemarin yang berada di level 4.732,483. IHSG konsisten menguat sepanjang sesi 1 setelah sebelumnya sempat dibuka di zona merah di level 4.724,00

    Menurut Analis Ekonomi dari LBP Enterprises Lucky Bayu Purnomo, penguatan tersebut diliputi beberapa sentimen yang berasal dari dalam maupun luar negeri. “Kalau dari luar negeri tadi malam kinerja perdagangan di kawasan global khususnya di Amerika itu mengalami pertumbuhan. Kemudian menguatnya kawasan global ikut mendorong menguatnya harga minyak dunia,”ujarnya saat dihubungi pada Kamis 11 Februari 2015.

    Sektor yang paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG adalah sektor infrastruktur dan sektor industri dasar. Pada perdagangan hari ini sektor Infrastruktur menguat 5,11 poin atau 0,5 persen di level 1.026,05, dan sektor industri dasar menguat 1,8 persen atau 7,69 poin di angka 425,56. “Infrastruktur dan basic industri ya. Karena kalau kami melihat paket kebijakan itu 95 persen dari 75 bidang usaha itu akan memperhatikan soal infrastruktur seperti pembangunan jalan tol, kereta api, seperti itu,” ujarnya.

    Kompak dengan IHSG, pergerakan rupiah juga mengalami penguatan. Berdasarkan pantauan Tempo dari situs Bloomberg, rupiah menguat 8,5 poin atau 0,06 persen di angka Rp 13.463 setelah sebelumnya dibuka di angka Rp 13.390.

    Menurut Lucky, terapresiasinya Rupiah tersebut berasal dari sentimen positif dari dalam negeri. Peluncuran kebijakan ekonomi ke –X yang diluncurkan hari ini kata Lucky merupakan kebijakan yang bersahabat dengan pasar. Selain itu penurunan suku bunga BI juga membuat pertumbuhan ekonomi mulai menggeliat.

    “Rupiah masih bisa diproyeksikan menguat karena BI menurunkan suku bunga. Pasar merasa lebih nyaman karena suku bunga bank turun dan banyak uang beredar karena rakyat berani untuk menyicil, berani pinjam uang, berani pinjam usaha,” ujarnya.

    DESTRIANITA K.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.