Investasi Pulau Terluar, Pemerintah Siapkan Rp 305 Miliar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdul Rahman asal Tobelo menunjukkan ikan cakalang yang dibelinya dari nelayan Morotai di pulau Kolorai, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, 12 November 2015. Minapolitan sendiri adalah sebuah konsep yang dilontarkan lima tahunan lalu, saat Menteri Kelautan dan Perikanan masih dijabat Fadel Mohammad. Namun Morotai kini masih jauh dari apa yang diharapkan akan terwujud. ANTARA/Fanny Octavianus

    Abdul Rahman asal Tobelo menunjukkan ikan cakalang yang dibelinya dari nelayan Morotai di pulau Kolorai, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, 12 November 2015. Minapolitan sendiri adalah sebuah konsep yang dilontarkan lima tahunan lalu, saat Menteri Kelautan dan Perikanan masih dijabat Fadel Mohammad. Namun Morotai kini masih jauh dari apa yang diharapkan akan terwujud. ANTARA/Fanny Octavianus

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan menyiapkan anggaran sebesar Rp 305 miliar untuk penanaman investasi di lokasi pulau kecil terluar dan kawasan perbatasan. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan ada 15 lokasi pulau terluar yang akan diprioritaskan untuk pembangunan sentra bisnis kelautan dan perikanan terpadu.

    "Diharapkan pembangunan ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada komoditas laut dengan pasar internasional," ujar Susi dalam sambutannya pada acara “The Marine and Fisheries Business and Investment Forum” di Ballroom Gedung Mina Bahari lll, Kementerian Kelautan, Kamis, 11 Februari 2016.

    Sebanyak 15 lokasi pulau terpilih yang menjadi sentra bisnis kelautan di antaranya Pulau Simeulue, Natuna, Mentawai, Nunukan, Tahuna, Biak Numfor, Saumlaki, Tual, Timika, dan Morotai. Dana sebesar Rp 305 miliar itu bakal diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta Dana Alokasi Khusus.

    Susi mengatakan dana tersebut akan digunakan, di antaranya, untuk pengadaan sarana pengolahan dan penunjang gudang beku terintegrasi, pengadaan kapal penangkap ikan ukuran 3-10 gros ton, dan speedboat patroli. Selain itu, anggaran tersebut akan dipakai untuk membeli peralatan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, pembangunan sarana-prasarana unit pembudidaya rakyat, sarana-prasarana dalam rangka konservasi sumber daya ikan, tambatan perahu, air bersih, instalasi BBM dan listrik, pabrik es kecil, dermaga, dan single cold storage.

    Peta peluang bisnis dan potensi keunggulan wilayah tersebut dapat menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang telah tersedia ataupun melengkapi yang belum tersedia. Dengan demikian, ujar Susi, nantinya konektivitas antarpulau dalam mendistribusikan komoditas laut dapat berjalan komersial dan menguntungkan bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.

    “Tentunya, untuk mewujudkan ini semua, juga harus dengan dukungan dan kerja sama badan usaha milik negara yang konsen pada sektor kelautan," ujar Susi.

    Acara The Marine and Fisheries Business and Investment Forum di Ballroom Gedung Mina Bahari hari ini membahas soal kerja sama BUMN dalam membangun perikanan di pulau kecil. Acara tersebut dihadiri sejumlah direksi BUMN, seperti PT Perikanan Nusantara, PT Perikanan Indonesia, PT Garam, dan PT Pelni.

    DEVY ERNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.