Tahun Monyet Api: Emiten Properti Bakal Bersinar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat maket apartemen pada acara pemilihan unit di Senayan City, Jakarta, 21 November 2015. Survei Perkembangan Properti Komersial yang dilansir Bank Indonesia (BI) pada Jumat (13/11/2015) mengungkap harga properti komersial melemah 1,69 persen secara triwulanan, dan 32,31 persen secara tahunan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pengunjung melihat maket apartemen pada acara pemilihan unit di Senayan City, Jakarta, 21 November 2015. Survei Perkembangan Properti Komersial yang dilansir Bank Indonesia (BI) pada Jumat (13/11/2015) mengungkap harga properti komersial melemah 1,69 persen secara triwulanan, dan 32,31 persen secara tahunan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Emiten yang berhubungan dengan unsur tanah seperti properti dan bahan bangunan diramalkan bakal bersinar di tahun monyet api ini.

    Pakar Fengshui Hariadi menjelaskan secara umum kondisi pasar keuangan dan bursa saham di Indonesia akan lebih stabil di tahun ini. Kondisi perekonomian global juga diperkirakan akan semakin membaik. Ini juga berlaku bagi mata uang rupiah yang akan semakin stabil.

    Namun, yang harus diperhatikan tahun ini adalah soal persaingan usaha. Menurutnya, di tahun monyet api ini cenderung akan terjadi persaingan yang tidak sehat antar perusahaan. “Jangan sampai seperti monyet yang gesit main comot sana-sini. Jika terlalu serakah akibatnya juga tidak akan bagus,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

    BacaBisnis Properti

    Di pasar saham, Hariadi memprediksi ini adalah tahunnya perusahaan yang bergerak di sektor yang berhubungan dengan unsur tanah. Selain properti, sektor yang termasuk unsur ini adalah ritel dan jasa keuangan.

    Di peringkat kedua, emiten yang akan bersinar adalah yang berhubungan dengan unsur api. Ini misalnya sektor elektronik, bahan kimia, restoran, perhotelan, dan kosmetik.

    Selanjutnya adalah emiten yang berhubungan dengan unsur logam seperti industri baja dan otomotif. Khusus untuk emiten sektor otomotif sebenarnya masih sangat menguntungkan tetapi harus disertai dengan hoki yang tinggi. Pasalnya, dia melihat saat ini sejumlah emiten di sektor ini mulai tumbuh terbatas.

    Pada peringkat keempat, Hariadi menuturkan emiten yang berhubungan dengan unsur air bisa menjadi pilihan meskipun harus dengan sangat hati-hati. Sektornya antara lain pelayaran, biro perjalanan, ekspor impor, dan farmasi.

    Terakhir, adalah sektor emiten yang justru harus dihindari di tahun ini yaitu yang berhubungan dengan unsur kayu. Perusahaan di sektor ini antara lain arsitektur, penerbangan dan transportasi terutama perusahaan taksi.

    Pada tahun monyet api ini, Hariadi memprediksi grafik Indonesia akan berubah-ubah sepanjang tahun. “Januari masih stabil. Lihat saja meskipun ada bom di Sarinah dampaknya kecil sekali ke perekonomian kita,” katanya.

    Adapun bulan-bulan buruk antara lain berlangsung pada Februari dan Maret. Awal bulan ini bahkan sudah ditandai dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan besar. Namun, Hariadi memperkirakan kondisi ini akan mulai membaik pada April hingga Agustus. Puncaknya, ekonomi Indonesia akan mencapai puncaknya pada Oktober.

    Kendati demikian, pada November masyarakat harus mewaspadai terjadinya penurunan grafik yang akan semakin memburuk di akhir tahun. Apalagi biasanya pada Desember perusahaan memiliki kewajiban untuk membayarkan kewajibannya seperti dividen dan utang piutang.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.