Begini Saat Bisnis Startup Menjadi Relawan Kota

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Startupbisnis.com

    Startupbisnis.com

    TEMPO.CO, Surabaya - Wajah Andree Wijaya, Elisabeth Bee, dan James Junianlie tampak letih. Namun ekspresinya tetap antusias. Di Forward Factory, sebuah co-working space kawasan Surabaya Barat, mereka masih bersemangat menyalurkan energi dan ilmunya sepulang menimba ilmu di Silicon Valley, Amerika Serikat. "Maaf ya, agak sibuk belakangan. Ini tadi sharing dengan teman-teman startup lainnya," kata Andree saat ditemui, Selasa, 9 Februari 2016.

    Setelah tim Delihome (semula bernama Masaku) resmi memenangi kompetisi Startup Sprint Surabaya, mereka berhak mendapatkan hadiah perjalanan bisnis ke pusat bisnis teknologi terkemuka itu selama seminggu. Istimewanya, Wali Kota Surabaya terpilih, Tri Rismaharini, turut serta dalam rombongan. Berkunjung ke lembah Silicon bersama pemimpin kota, Andree dan dua sahabatnya itu mengaku mendapat banyak inspirasi baru.

    Bertolak dari Indonesia pada Rabu, 13 Januari 2016, hari pertama dilalui dengan mengunjungi Code for America. Code for America ialah sebuah wadah bertemunya para sukarelawan teknologi informasi di Negeri Abang Sam. "Di sana para relawan datang dan berkumpul untuk mengembangkan produk-produk yang bisa membantu pemerintah melayani masyarakat," ujar James.

    Mengusung slogan 'from and by the people', Code for America mendorong anak-anak muda ahli IT untuk memberikan sumbangsih keahliannya bagi kepentingan umum. Mereka merancang aplikasi yang dibutuhkan pemerintah kota, yang mayoritas berkaitan dengan penanganan bencana alam. Aplikasi yang berhasil akan didanai pemerintah.

    Andree mencontohkan apiknya kolaborasi anak-anak muda di New Orleans saat membuat sebuah aplikasi 'Blight Status’ untuk pemerintah. Kala itu, Wali Kota New Orleans meminta ada sebuah aplikasi berikut website-nya, yang mampu menyimpan data perkembangan pembangunan infrastruktur pascabencana alam. "Jadi dia bisa tahu progres perbaikan rumah para warganya yang habis terkena badai, misalnya."

    Selain bertemu dengan komunitas Code for America, mereka berkunjung ke F50, salah satu sindikasi pemodal ventura tersohor di Lembah Silikon. Berkonsep co-working space, F50 mengedepankan pertukaran ide dan kolaborasi antarorang . "Menariknya, mereka tidak takut idenya dicuri saat berdiskusi. Menurut mereka, ide itu murah. Yang mahal adalah eksekusinya," katanya.

    Tak lupa, rombongan bertandang ke Facebook dan Google. Di Google, mereka berbagi dan mendapat amunisi saran dari para ahlinya. "Mereka bilang, yang terpenting dalam bisnis startup adalah tim yang solid meskipun idenya biasa-biasa saja. It's better to have an A-team with B-idea, than A-idea with B-team," ujar James.

    Selain itu, kata mereka, berbisnis berbasis teknologi, seperti startup, harus berlandaskan penyelesaian masalah. Bukan sekadar memikirkan keuntungan.

    Elisabeth pun yakin, anak-anak muda Surabaya memiliki kemampuan yang tak kalah dengan pemuda di Silicon Valley. Apalagi Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam maupun manusia. "Di sana itu dulunya hanya kebun jeruk dan separuh dari total penduduknya adalah imigran. Karenanya, mereka benar-benar memaksimalkan SDM di bidang teknologi."

    Sepulang dari sana, tim Delihome segera meramu ilmu dan inspirasi bagi pertumbuhan bisnis startup mereka. Apalagi mereka yakin aplikasi yang dibikin tak melulu memikirkan keuntungan bisnis. Aplikasi Delihome buatan mereka dirancang juga untuk mengedukasi ibu-ibu pelaku Usaha, Kecil, Menengah (UKM) Surabaya.

    "Kami bantu ajarkan bagaimana mengemas kemasan makanan yang baik dan sehat, foto yang menggugah selera itu bagaimana, dan sebagainya. Kami selalu beri mereka masukan," kata Andree. Ikatan yang baik dengan para ibu yang memasak makanan rumahan menjadi kunci keberhasilan mereka. Hingga kini, Delihome sudah menggandeng 50-60 penjual aktif dan aplikasinya telah diunduh 1.200 pengguna.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.