Harga Komoditas Naik, Menteri Marwan Bangun Lumbung Desa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, memborong 10 kg jeruk baby saat berkunjung ke kawasan desa wisata petik jeruk di Desa Selorejo, Kec. Dau, Malang, 27 Maret 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, memborong 10 kg jeruk baby saat berkunjung ke kawasan desa wisata petik jeruk di Desa Selorejo, Kec. Dau, Malang, 27 Maret 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.COJakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar meluncurkan program pendirian lumbung pangan desa menyusul naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok sepanjang 2015. Nantinya, lumbung pangan desa itu dikelola oleh badan usaha milik desa (BUMDes).

    “Pendirian lumbung desa melalui BUMDes ini tidak hanya sebagai buffer stock terhadap kebutuhan pangan. Lumbung desa juga bisa menjaga stabilisasi harga karena dapat menjaga kebutuhan akan pasokan dari pihak luar,” kata Marwan di Jakarta pada Selasa, 9 Februari 2016.

    Marwan mengatakan BUMDes bisa menjadi tempat untuk mengumpulkan kebutuhan dari petani sekaligus memasok langsung kebutuhan pokok tersebut ke pasar. Selain itu, BUMDes mengolah hasil-hasil pertanian, terutama pangan, sehingga bisa dijual tidak dalam bentuk bahan mentah.

    “Dengan demikian, para petani diharapkan mendapat nilai lebih dari pengolahan tersebut. Pada saat panen raya, kelebihan panen bisa diolah dalam bentuk barang jadi lainnya, sehingga pasokan tetap terkontrol,” Marwan berujar.

    Adanya program produksi dan pasokan pasar untuk masing-masing komoditas yang berdasarkan kebutuhan pasar itu, menurut Marwan, dapat mengendalikan harga kebutuhan pokok. “Sehingga tidak ada lagi keluhan dari masyarakat karena harus mengalami kenaikan harga.” 

    Marwan menjelaskan kementeriannya akan bekerja sama dengan Bulog untuk melatih aparat dan masyarakat desa untuk mengelola BUMDes. “Bulog sudah berpengalaman mengelola cadangan pangan dan stabilisasi harga beras,” ucapnya.

    Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok yang terjadi sepanjang 2015 menunjukkan sebuah anomali. Pasalnya, sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga tak hanya menjelang hari besar agama saja. Hal ini terjadi pada komoditas daging sapi di sejumlah daerah, seperti Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat, serta sebagian Jawa Tengah. Harga daging sapi masih bertengger di atas Rp 100 ribu per kilogram. Bahkan, di sejumlah tempat, harga daging sapi sempat menyentuh level tertinggi, yakni Rp 130 ribu per kilogram.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.