BKPM Beberkan Investasi dari Eropa Meningkat 10 Kali Lipat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani mengatakan komitmen investasi dari negara-negara Eropa pada Januari 2016 mencapai Rp 6,53 triliun. Jumlah itu naik hampir 10 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 670 miliar.

    Beberapa negara Eropa yang menanamkan modalnya di Indonesia antara lain, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis serta Swiss. ‎"Belanda sebesar Rp 4,38 triliun, Inggris Rp 1,12 triliun, serta Jerman Rp 590 miliar," kata Franky, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 5 Februari 2016. 

    Sektor yang mendapatkan kucuran investasi adalah hilirisasi sumber daya mineral, senilai US$ 7 Miliar.  Sektor infrastruktur dan padat karya juga tak kalah besar, angkanya masing-masing US$ 4,7 miliar, dan US$ 444 juta. BKPM juga mencatat beberapa perusahaan Eropa telah merealisasikan rencananya. Di antaranya perusahaan bergerak di bidang telekomunikasi, industri kimia, ban,dan industri minyak pelumas.  

    Menurut Franky,  BKPM terus berpromosi untuk menggaet pemodal. Dalam acara Investor Forum, BKPM mengundang sebanyak 142 calon investor potensial dari negara-negara Eropa. "Kami memperkenalkan beberapa layanan, termasuk izin investasi 3 jam."

    Franky mengatakan, berdasarkan Lembaga Pemantau Investasi Global Britcham pelaku bisnis di Eropa memandang Indonesia sebagai tujuan investasi. Setidaknya ada lima sektor yang dianggap prospektif, yaitu infrastruktur dan konstruksi, pariwisata dan jasa, makanan dan minuman,  ritel, serta perikanan. Adapun lokasi yang paling banyak diincar yaitu Sulawesi dan Sumatera.

    FAIZ NASHRILLAH‎


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.