Tak Semua Pengusaha Ingin Bangun Industri Hilir Kelapa Sawit

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pekerja PT. Perkebunan Nusantara XIII menyortir kelapa sawit yang baru dipanen di Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/9). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong

    Dua pekerja PT. Perkebunan Nusantara XIII menyortir kelapa sawit yang baru dipanen di Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/9). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong

    TEMPO.CO, Jakarta - Meskipun banyak pemain di sektor perkebunan kelapa sawit, tidak banyak pengusaha yang mau membangun industri hilir pengolahan produk turunan salah satu komoditas unggulan di Tanah Air tersebut.

    Corporate Affair Director Musim Mas Group Togar Sitanggang mengatakan pengusaha memang sudah merasakan beberapa dukungan pemerintah agar mau membangun industri hilir komoditas seperti kelapa sawit.

    “Misalnya pemerintah membuat aturan bea keluar untuk ekspor bahan mentah lebih mahal dibandingkan ekspor barang jadi, ini dukungan kepada pengusaha dan berhasil menekan jumlah ekspor raw material,” katanya kepada Bisnis.com.

    Meski demikian belum semua pemain di sektor komoditas mau membuka industri hilir, karena tidak banyak yang mau mengambil risiko mengelola pabrik pengolahan produk turunan itu.

    Togar mencontohkan banyak pengusaha yang memilih membuka kebun kelapa sawit mulai dari nol. Dengan usia tiap pohon rerata 25 tahun, mulai berproduksi umur delapan tahun. Ini termasuk dalam pendapatan riil tanpa risiko terlalu besar.

    “Tetapi bila memilih membuka pabrik pengolahan produk turunan, dia harus menyiapkan ahli dan tenaga produksi secara massal, ini ada risikonya kalau tidak bisa mengelola dengan baik pabrik itu bisa rugi,nah tidak semua yang berani mengambil risiko begini,” katanya.

    Pihaknya optimistis bila diberikan dukungan maksimal oleh pemerintah, akan semakin banyak pengusaha yang mau terjun ke sektor industri hilir karena nilai tambah yang didapatkan dari bidang ini akan memberikan pendapatan lebih bagi dalam negeri.

    Sebelumnya kalangan pengusaha mendorong Pemerintah Provinsi Riau untuk mencari peluang pasar ekspor baru untuk komoditas andalannya di tengah anjloknya harga minyak mentah di pasar global.

    Selain itu pemprov juga diminta untuk mendukung dunia usaha membangun industri hilir di daerah guna meningkatkan pendapatan dan nilai tambah produk komoditi perkebunan.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.