Harga Turun, Tiga Negara Sepakat Kurangi Ekspor Karet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang buruh karet mengumpulkan getah karet yang telah disadap di lahan perkebunan karet Perusahaan Daerah Perkebunan Gunung Pasang, desa Kemiri, Jember, Senin (6/11). Dalam sehari masing-masing buruh mampu mengumpulkan 25 kilogram getah karet dengan upah Rp 4500 perkilo. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang buruh karet mengumpulkan getah karet yang telah disadap di lahan perkebunan karet Perusahaan Daerah Perkebunan Gunung Pasang, desa Kemiri, Jember, Senin (6/11). Dalam sehari masing-masing buruh mampu mengumpulkan 25 kilogram getah karet dengan upah Rp 4500 perkilo. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.COJakarta - Indonesia, Thailand, dan Malaysia sepakat mengurangi ekspor karet. Melalui International Tripartite Rubber Council (ITRC), ketiga negara berkomitmen memangkas ekspor karet sebesar 615 ribu ton selama kurun waktu 1 Maret 2016 hingga 31 Agustus 2016.

    “Hal ini dilakukan sebagai upaya mendongkrak harga karet alam,” kata Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Karyanto Suprih di Kementerian Perdagangan, Kamis, 4 Februari 2016.

    Karyanto menyatakan kesepakatan ITRC tersebut dibuat oleh Menteri Perdagangan Thomas Trikasi Lembong, Menteri Pertanian dan Kerja Sama Thailand Chatchai Sarikulya, dan Menteri Perkebunan Malaysia Datuk Amar Douglas Unggah Embas. Sebelumnya, ketiga negara telah merundingkan hal ini pada pertemuan 19-22 dan 28-29 Januari 2016.

    Di antara ketiga negara anggota ITRC, Thailand berkomitmen mengurangi ekspor karet paling besar, yakni 324.025 ton pada periode yang disepakati. Sedangkan Indonesia akan memangkas ekspor sebesar 238.736 ton dan Malaysia 52.249 ton.

    Sebelumnya, pada Januari–November 2015, ekspor karet alam Indonesia mencapai 2,4 juta ton, sehingga hingga akhir tahun jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 2,6 juta ton. “Karet yang tidak diekspor nantinya diupayakan untuk bisa terserap di dalam negeri, termasuk untuk proyek infrastruktur,” ujar Karyanto.

    Menurut Karyanto, saat ini Indonesia, Thailand, dan Malaysia sebagai anggota ITRC adalah penghasil 67 persen karet dunia. Penguasaan pasar ini akan bertambah hingga 76 persen jika Vietnam turut bergabung.

    Karyanto menyebut, Vietnam saat ini masih berstatus sebagai ‘strategic partner’ di ITRC. Sehingga mereka belum ikut dalam komitmen pemangkasan ekspor. Bagaimanapun juga, ITRC masih akan berupaya agar negeri itu turut bergabung. “Kami akan kirim delegasi ke sana,” ujarnya. Jika sepakat, Vietnam kemungkinan akan turut memangkas sekitar 85 ribu ton ekspor karet alamnya.

    Dari industri, Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo menyatakan dukungannya atas kesepakatan ini. “Demi kelangsungan industri, ekspor karet memang harus dikurangi,” ujarnya.

    Harga karet alam di pasar global sekitar US$ 1,04-1,09 per kilogram. Sedangkan untuk memberi keuntungan bagi petani, harga karet setidaknya harus ada di kisaran US$ 2-3 per kilogram.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.