Kenapa Indonesia Perlu Dukung Industri Sawit? Ini Kata Gapki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja menaikkan panen kelapa sawit di perkebunan  kelapa sawit PT Nusantara 8 di Leuweung Datar,desa Sukasirna,Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (28/8). ANTARA/Teresia May

    Seorang pekerja menaikkan panen kelapa sawit di perkebunan kelapa sawit PT Nusantara 8 di Leuweung Datar,desa Sukasirna,Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (28/8). ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) meyakini ekspor minyak sawit mentah (CPO) akan melampaui migas dalam beberapa tahun ke depan.

    Ketua Umum Gapki Joko Supriyono membeberkan tahun lalu produksi CPO Indonesia mencapai 32,5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 26 juta ton CPO diekspor dengan nilai yang ditaksir mencapai US$18,5 miliar.

    “Nilai ekspor untuk tahun lalu sudah menyamai migas, yang selama bertahun-tahun menjadi komoditas andalan kita. Beberapa tahun lagi saya yakin bisa melampaui,” katanya dalam acara diskusi Festival Iklim 2016 di Jakarta, Rabu (3 Februari 2016).

    Joko mengatakan capaian tersebut dia sampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Selasa (2 Februari 2016). Kemarin, Jokowi juga menerima pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI).

    Baca juga: Terkait KTT Paris, KLHK Gelar Festival Iklim 1-4 Februari

    Menurunnya kontribusi ekspor migas tidak terlepas dari anjloknya harga emas hitam sepanjang 2015. Pada saat yang sama, harga CPO juga drop sehingga ekspor yang biasanya US$21 miliar merosot ke angka US$18,5 miliar.

    Joko mengklaim ekspor CPO turut menyelamatkan neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit. Namun, kata dia lagi, industri tersebut masih menghadapi sejumlah kendala seperti fluktuasi harga hingga kampanye negatif di pasar negara-negara maju. “Padahal pohon kelapa sawit itu juga menjadi penyerap emisi karbon,” ujarnya.

    Selain penyerap karbon, Joko mengatakan industri sawit juga dapat berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim dengan implementasi biodiesel. Berdasarkan riset, satu liter biodiesel mengemisi karbon ekuivalen sebanyak 1,54 kilogram (kg), sedangkan solar 2,6 kg. “Bisa dihitung sendiri kalau tahun lalu biodiesel itu ada 1 juta ton berapa sumbangannya untuk mengurangi emisi,” tuturnya.

    Simak : Banyak LSM Tak Diajak Ikut Festival Iklim Kementerian Kehutanan

    Pernyataan Joko Supriyono dibantah Direktur Eksekutif WALHI Abednego Tarigan. Dia menilai Indonesia perlu mengurangi ketergantungan dari kelapa sawit bila berimplikasi pada ekspansi hutan secara besar-besaran. Apalagi, dia mengungkapkan, berkah kelapa sawit justru tidak dinikmati sepenuhnya oleh orang Indonesia.

    “Industri sawit kita dikuasai 27 perusahaan sawit yang basisnya sebagian besar di luar negeri,” ucapnya di lokasi yang sama.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.