Indeks Saham Diperkirakan Tembus 5.000 di Pertengahan Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Ikatan Pialang Efek Indonesia (IPEI) Boris Sirait yakin indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa menembus level 5.000. Kenaikan IHSG ini diperkirakan dapat terjadi dengan asumsi tidak ada sentimen negatif atau kejadian luar biasa yang mempengaruhi pergerakan indeks tersebut. "Kalau saya kira sih di atas 5.000 sampai,” tutur Boris di gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu, 3 Februari 2016.

    Boris menjelaskan, dengan asumsi-asumsi tidak ada kejadian luar biasa dan dikombinasi dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di atas lima persen, perkiraan tersebut dapat terealisasi. “Saya kira enggak sampai pertengahan tahun udah tembus itu," ujarnya.

    Baca juga: Dibayangi Aksi Ambil Untung, IHSG Diprediksi Terkoreksi

    Untuk menembus level itu, kata Boris, saat ini pasar sedang mengevaluasi pergerakan IHSG. Boris berkaca pada pengalaman ketika 2013 dan 2014, saat pasar pesimistis tapi indeks bisa menembus 5.000. “Eh ternyata tembus 5.300. Jadi ketika perhitungan orang bahwa market enggak terlalu jelek, malah justru IHSG akan naik," katanya.

    Dengan sentimen-sentimen tersebut seharusnya investor lebih jeli dalam mencerna saham sehingga dalam berinvestasi dan bertransaksi, mereka dapat lebih rasional. “Kami akan mewarnai bursa dengan pendidikan yang kami buat,” ucap Boris. Harapannya, investor rasional dan bisa bertransaksi bukan berdasarkan sentimen tapi benar-benar meneliti saham-saham yang ada secara rasional.

    DESTRIANITA KUSUMASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.