Ini Alasan Jabodetabek Jadi Favorit Bisnis Pusat Belanja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Mall. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Ilustrasi Mall. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketatnya persaingan usaha di kawasan Jabodetabek tak meluluhkan niat pelaku usaha untuk terus melakukan ekspansi bisnisnya.

    Jumlah populasi yang buncit, tingkat pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya, dan murahnya biaya distribusi dinilai merupakan daya tarik kawasan ini.

    “Dalam hal ini, prospek Jakarta, terutama kawasan penyangganya, masih menjadi incaran para pelaku usaha pusat belanja. Mungkin, untuk Jakarta sudah cukup, tapi daerah lainnya mereka membangun,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan ketika dihubungi Bisnis, Selasa (2 Februari 2016).

    Dengan adanya moratorium mall di Jakarta, langkah ekspansi tersebut memang tidak dapat dielakkan. Berdasarkan data yang dimiliki APPBI, jumlah pusat perbelanjaan di Indonesia mencapai 292 unit, dan 80 diantaranya berada di Jakarta.

    Dirinya mengungkapkan sebagian besar lokasi pusat perbelanjaan memang masih berada di Pulau Jawa karena infrastruktur dan arus logistik lebih memadai dibandingkan di kawasan timur Indonesia.

    Terkait dengan ketatnya persaingan antarpusat perbelanja, dirinya berencana untuk melakukan tur ke beberapa kota untuk memberikan tips bisnis kepada pelaku usaha pusat perbelanjaan.

    “Ada kesan, mal baru menggerus pangsa pasar mall lama. Bukan itu isunya, tetapi bagaimana mereka tidak bersaing secara head to head dengan mengedepankan diferensiasi dan inovasi bisnis,” ucapnya.

    Pada saat yang sama, Country CEO Courts Retail Indonesia Roy Santoso mengungkapkan pihaknya masih fokus untuk mengembangkan bisnis di kawasan Jabodetabek hingga 2017.

    “Jika dihitung berdasarkan produk domestik bruto, kawasan ini kontribusinya sekitar 30% secara nasional. Tak hanya itu, jumlah populasi yang gemuk dan konsep kota satelit misalnya Tangerang Selatan, Depok, dan Bogor sesuai dengan karakteristik pasar kami,” tambahnya.

    Secara umum, kota satelit atau kota penyangga DKI Jakarta dinilainya menjadi keuntungan bagi perusahaan ritel modern ini untuk mengembangkan bisnisnya. Kota satelit atau mandiri sudah memiliki infrastruktur yang memadai yang diapit oleh kawasan perumahan dan industri.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.