BKPM Jaring Sektor Investasi Baru dari Jepang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal menjaring sektor investasi baru dari Jepang. Selama ini, minat Jepang didominasi sektor tradisional investornya, seperti otomotif dan elektronik. 

    Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan kali ini sektor yang diminati antara lain properti dan pembangunan terminal di bandara Nusa Tenggara Barat. “Saya berharap diversifikasi sektor-sektor baru ini akan terus berlanjut,” katanya melalui siaran pers, Selasa, 2 Februari 2016.

    Total nilai investasi yang terjaring dari Jepang adalah US$ 4,49 miliar (Rp 61,3 triliun). Nilai tersebut terdiri atas perluasan investasi sebesar US$ 40 juta, minat investasi baru sebesar US$ 1,725 miliar, dan komitmen investasi yang ditandai dengan telah memiliki izin prinsip (IP) sebesar US$ 2,719 miliar.

    Baca:17.600 Orang Dukung Petisi Cabut Penghargaan Cukai Rokok  

    Dari total minat investasi yang terkait dengan perluasan investasi perusahaan Jepang yang ada di Indonesia sebesar US$ 40 juta, sebagian datang dari bidang industri isolasi tahan panas. Sedangkan minat investasi baru sebesar US$ 1,725 miliar, yang terdiri atas minat investasi di bidang moda transportasi massal (US$ 1,1 miliar), pembangunan pembangkit listrik (US$ 400 juta), pembangunan terminal bandara (US$ 200 juta), pembangunan jalur pipa gas (US$ 20 juta), industri bahan bangunan (US$ 3 juta), serta industri mesin pertanian dan komponennya (US$ 2 juta).

    Selain itu, terdapat komitmen investasi yang sudah memperoleh izin prinsip dari BKPM sebesar US$ 2,719 miliar, yang terdiri atas pembangunan pembangkit listrik (US$ 2,7 miliar), pembangunan dan pengembangan properti/real estate (US$ 10 juta), serta industri suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor roda empat atau lebih (US$ 9,2 juta).

    Mayoritas dari minat dan komitmen investasi tersebut berlokasi di Pulau Jawa. Ada juga beberapa minat investasi di bidang pembangkit listrik di Provinsi Sumatera Utara. 

    TRI ARTINING PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?