Ini Alasan Indonesia Harus Jadi Anggota Dewan ICAO  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 (kiri) dan pesawat terbang komersil Boeing 777-300ER di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan Airbus A330-300 dengan Super Diamond Seat Business Class pertama dan Boeing 777-300ER yang kesepuluh. TEMPO/Tony Hartawan

    Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 (kiri) dan pesawat terbang komersil Boeing 777-300ER di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan Airbus A330-300 dengan Super Diamond Seat Business Class pertama dan Boeing 777-300ER yang kesepuluh. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Utusan khusus Menteri Perhubungan untuk Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization - ICAO) Indroyono Soesilo mengatakan Indonesia harus bisa masuk menjadi anggota dewan ICAO dalam pemilihan 2016-2019 di Kanada, pada September 2016.

    "ICAO adalah badan dunia dengan anggota 191 negara, Indonesia dengan luas seperti ini ternyata tidak menjadi anggota dewan. Dari 191, hanya 36 negara yang menjadi anggota dewan yang menentukan kebijakan penerbangan sipil di dunia. Sekarang kita maju kelima kalinya, kita harus menang," kata Indroyono di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin, 1 Februari 2016.

    Indroyono memberikan alasan Indonesia layak menjadi anggota dewan ICAO. Salah satunya karena jumlah pertumbuhan penumpang domestik yang meningkat 16 persen. "Pada 2010 ada 52 juta penumpang domestik, 2015 ada 85 juta. Pada 2019 diperkirakan akan mencapai 104 juta." 

    Pertumbuhan jumlah pesawat terbang di Indonesia, kata Indroyono, juga diperkirakan akan terus meningkat sampai 2019. Ia memprediksi dalam 4 sampai 5 tahun ke depan, Indonesia butuh sekitar 400 pesawat baru dari total pesawat sebanyak 1.142 pada 2015.

    Indroyono menyatakan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menduduki peringkat ke-12 di dunia sebagai bandara paling sibuk pada 2014. "Anda boleh bilang Soekarno-Hatta kayak terminal, silakan, tapi kajian dunia, Jakarta nomor 12 di dunia dengan 57 juta penumpang yang turun dan naik," katanya.

    Sedangkan ruang udara di Indonesia, menurut Indroyono, sama dengan 25 flight information region di Eropa. Selain itu, saat ini Indonesia memiliki 237 bandar udara, termasuk 27 di antaranya melayani 129 rute internasional. "Dengan kondisi seperti ini, kita malah tidak menjadi anggota dewan ICAO."

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!