Apartemen di Pusat Kota Jadi Primadona Investasi 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi apartemen. REUTERS/Erik De Castro

    Ilustrasi apartemen. REUTERS/Erik De Castro

    TEMPO.CO, Jakarta - Apartemen di pusat kota akan menjadi sektor primadona untuk berinvestasi tahun ini bila menimbang tren investasi asing yang akan semakin genjar masuk dan harga properti yang relatif belum beranjak naik.

    Direktur PT Synthesis Karya Pratama Julius J. Warouw mengatakan, pasar properti sejak 2014 hingga akhir 2015 menunjukkan tren pelemahan. Penyesuaian strategi dari kalangan pengembang untuk lebih berorientasi ke kebutuhan pasar pun tidak banyak hasilnya.

    Padahal, banyak pengembang baru yang muncul pada awal periode tersebut karena pertumbuhan sektor properti yang sangat signifikan di tahun sebelumnya. Alhasil, karena pasar yang begitu lemah, hampir tidak ada pengembang yang berani menaikan harga properti.

    Meski demikian, data yang dilansir Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan, selama 2015 penanaman modal asing di sektor properti justru cukup tinggi. Data kuartal IV 2015 BKPM menunjukkan, realisasi investasi asing di sektor  properti mencapai US$952,3 juta, lebih tinggi 50% lebih dibanding realisasi penanaman modal dalam negeri yang sebesar US$621,9 juta.

    “Jadi, investasi sampai akhir 2015 itu lumayan kencang, tapi hasilnya belum terasa. Hasilnya baru akan mulai terasa 2016 ke atas. Makanya kita lihat banyak orang bilang properti 2016 akan membaik, karena begitu banyak perusahaan yang masuk investasinya,” katanya kepada Bisnis, dikutip Jumat (29 Januari 2016).

    Menurutnya, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi yang diminati secara global, terindikasi dari proyeksi IMF terhadap pertumbuhan GDP Indonesia yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara lainnya di kawasan Asean.

    Sementara itu, data pertumbuhan GDP negara-negara dunia 2001-2013 menunjukkan, pertumbuhan tertinggi didominasi oleh negara-negara Asia. China berada pada urutan teratas dengan tingkat pertumbuhan 575% dan diikuti oleh Asean dengan pertumbuhan 313%.

    Hal tersebut mengindikasikan negara asal investor asing yang menanamkan modal di Indonesia masih akan didominasi negara-negara Asia dengan karakter investor yang berbeda dari negara-negara Eropa. Dibukanya era MEA turut mendukung tren tersebut.

    Menimbang hal tersebut, menurutnya pasar apartemen di pusat kota merupakan segmen yang sangat potensial. Pasalnya, dengan dibukanya keran kepemilikan properti untuk orang asing, segmen yang disasar investor Asia umumnya adalah yang dekat dengan kantornya. Berbeda dengan investor Amerika atau Eropa yang lebih memprioritaskan suasana yang nyaman di pinggiran kota.

    Selain itu, kalangan lokal, khususnya kelas menengah ke atas pun cenderung menyasar lokasi yang mudah diakses. Dukungan transportasi umum menjadi pertimbangan penting bagi keputusan investasi kelas ini.

    Oleh karena itu, menurutnya tahun ini merupakan saat yang tepat untuk membeli properti untuk investasi, selagi harganya belum melambung. Akan tetapi, pembeli tetap harus hati-hati dan jeli melihat produk yang punya nilai tambah.

    “Developer pun harus benar-benar perhatikan demand, jangan hanya melihat opportunity. Jangan masuk dalam euforia karena penjualan properti dua tahun lalu belum tentu merefleksikan kebiasaan dari market yang sesungguhnya,” katanya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.