Jagung Impor Ditahan, Menteri Amran: Bulan Depan Panen Raya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero) Istochri Utomo (kanan), menjawab pertanyaan awak media seusai melakukan pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di kantor Wakil Presiden, Jakarta, 2 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (Persero) Istochri Utomo (kanan), menjawab pertanyaan awak media seusai melakukan pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di kantor Wakil Presiden, Jakarta, 2 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Penahanan jagung impor di pelabuhan oleh Kementerian Pertanian dituding sebagai penyebab melonjaknya harga daging ayam. Ketika ditanya mengenai hal ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta masyarakat dan pelaku usaha bersabar. "Kami sudah siapkan solusi, minggu depanlah ini selesai," katanya, Jumat, 29 Januari 2016.

    Amran menyatakan panen raya jagung di berbagai daerah akan dimulai pada 3 Februari 2016. "Februari-Maret jagung akan melimpah," ujarnya.

    Soal impor, Amran menyatakan pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian telah memutuskan penugasan Bulog sebagai importir tunggal. Perusahaan pelat merah itu tahun ini akan ditugasi melakukan impor hingga 600 ribu ton. "Dengan begitu, kita bisa kontrol saat panen jagung impor tidak akan keluar sehingga petani tidak susah," ucapnya.

    Kementerian Pertanian menahan 353 ribu ton jagung impor yang merupakan bahan baku pakan ayam di pelabuhan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga daging ayam hingga Rp 35 ribu per ekor. "Ayam kan butuh jagung," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) F.X. Sudirman saat dihubungi, Jumat siang.

    Penahanan jagung itu sendiri dilakukan karena, menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 57 Tahun 2015 (Permentan 57/2015), impor jagung untuk pakan ternak harus mendapat rekomendasi dari Kementerian Pertanian.

    Sudirman menyatakan penerapan peraturan itu masih simpang-siur. Di kalangan pengusaha, belum ada kepastian apakah peraturan baru itu telah berlaku. "Kami pakai aturan lama karena Permentan 57 sendiri belum dipublikasikan," tuturnya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.