Bisnis Online Melonjak di Yogya, 70 Persen Anak Muda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alice Norin, model dan pemain sinetron yang menekuni bisnis baju online saat pemotretan di kantornya, Jakarta, 19 Nopember 2015. TEMPO/Frannoto

    Alice Norin, model dan pemain sinetron yang menekuni bisnis baju online saat pemotretan di kantornya, Jakarta, 19 Nopember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Bisnis dalam jaringan (online) di Yogyakarta meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Diperkirakan, sekitar 1.000 pelaku usaha kecil hingga menengah memanfaatkan bisnis dalam jaringan. “Sebanyak 70 persen pelaku usaha bisnis adalah kalangan muda,” kata Konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Wahyu Tri Atmojo, kemarin.

    Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, sarjana, dan ibu rumah tangga. Pertumbuhan itu dihitung sejak 2014. Menurut Wahyu, para pelaku usaha datang untuk berkonsultasi agar usaha dalam jaringannya dikunjungi konsumen. Ada juga yang bertanya bagaimana membuat tampilan produk yang menarik.

    Dari 800 usaha mikro, kecil, dan menengah yang dibina pusat layanan, sekitar 60 persen adalah usaha mikro. Sedangkan sisanya adalah skala kecil hingga menengah. Dia mengatakan sebagian memanfaatkan perdagangan elektronik untuk memasarkan beraneka produk. Di antaranya kerajinan, baju, batik, tas rajut, kerajinan miniatur musik, kerajinan miniatur khas Yogyakarta, dan kuliner.

    Marketing Eksekutif UMKM Market, Maria Mira, mengatakan, dari 1,7 juta pelaku usaha, sebanyak 700 orang memanfaatkan bisnis dalam jaringan. “Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah usaha kecil-menengah yang memanfaatkan bisnis online naik 60 persen,” katanya.

    Sebanyak 50 persen pelaku usaha adalah orang muda yang memanfaatkan media sosial, seperti Instagram. Maria memperkirakan omzet bisnis dalam jaringan ini mampu meraup Rp 5-10 juta per hari.

    Pelaku usaha kecil-menengah, Nur Hidayah Erna, mengatakan bisnis dalam jaringan sangat menguntungkan karena lebih praktis. Menurut dia, yang diperlukan dalam bisnis adalah menjaga kepercayaan pelanggan yang tersebar di Jakarta, Kalimantan, dan Sumatera. “Omzet saya rata-rata Rp 10 juta per bulan,” ujarnya.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.