Sepanjang 2015 Kunjungan Turis ke Baduy Menurun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mencicipi durian yang dipanen di hutan sekitar kampung suku Baduy, di Kampung Gajebo, Banten, 12 Desember 2015. Musim panen buah durian menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke desa Ciboleger, Baduy. TEMPO/Charisma Adristy

    Pengunjung mencicipi durian yang dipanen di hutan sekitar kampung suku Baduy, di Kampung Gajebo, Banten, 12 Desember 2015. Musim panen buah durian menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke desa Ciboleger, Baduy. TEMPO/Charisma Adristy

    TEMPO.CO, Jakarta - Kunjungan wisatawan budaya Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sepanjang tahun 2015 menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

    Kunjungan wisatawan budaya Baduy tahun 2015 tercatat 3.181 orang dan mancanegara 66 orang, Kabid Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata, Lebak, Okta di Lebak, Kamis (28 Januari 2016).

    Sementara pada 2014 wisatawan lokal mencapai 6.460 orang dan mancanegara sebanyak 122 orang.

    Menurunya kunjungan wisatawan ke Baduy akibat buruknya infrastuktur jalan serta minimnya fasilitas di sekitar perbatasan kawasan Baduy. Buruknya infrastuktur itu berdampak terhadap kunjungan wisata ke kawasan Baduy.

    Saat ini pemerintah daerah telah membangun jalan beton menuju kawasan Baduy guna mendongkrak kunjungan wisata budaya itu.

    Selain itu promosi-promosi budaya adat Baduy dioptimalkan melalui pameran maupun media.

    Selama ini, kata Okta, kunjungan wisatawan kawasan Baduy belum menggeliat, terutama wisatawan dari luar negeri.

    Sebagian besar kunjungan wisatawan budaya tersebut untuk melakukan penelitian kehidupan tatanan sosial warga Baduy, sehingga mereka kebanyakan dari Perguruan Tinggi dan pelajar.

    "Kami berharap dengan betonisasi dapat menunjang untuk mendongkrak kunjungan wisatawan domestik maupun asing," ujarnya.

    Menurut dia, saat ini pengunjung wisata adat Baduy tidak dikenakan retribusi untuk pemasukan pendapatan asli daerah (PAD).

    Sebab, masyarakat Baduy menolak dengan penarikan retribusi tersebut.

    Wisata Baduy memiliki nilai tersendiri di Provinsi Banten, karena hingga kini mereka masih mempertahankan budaya leluhur.

    Mereka menolak hidup modernisasi, seperti televisi, radio, naik kendaraan, jalan beraspal, rumah bertembok dan sepatu.

    Oleh sebab itu, hingga kini kawasan Baduy yang tinggal di Pegunungan Kendeng dengan jumlah penduduk sebanyak 10.500 jiwa tidak bisa dilintasi berbagai jenis angkutan.

    "Kami tidak bisa membangun kawasan Baduy, karena bertentangan dengan adat budaya mereka. Itu menjadikan kesulitan bagi pemerintah daerah," ujarnya.

    Sementara itu, Mulyadi, seorang Mahasiswa dari Universitas Padjadjaran Bandung mengaku dirinya memberikan apresiasi terhadap masyarakat Baduy yang hingga kini mempertahankan adat budaya setempat.

    Selain itu juga mencintai alam dengan larangan menebang pohon serta membangun ketahanan pangan cukup kuat dengan mendirikan lumbung jika musim panen padi huma.

    "Kami datang ke sini kali pertama dan kagum melihat warga Baduy yang mempertahankan adat istiadat juga mencintai alam," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.