Bankir Kompak Fokus Menahan Ekspansi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Plt Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris memberikan sambutan sebelum penandatanganan MoU Kerjasama pembiayaan BPJS Kesehatan dan bank BUMN di Jakarta, 20 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Plt Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris memberikan sambutan sebelum penandatanganan MoU Kerjasama pembiayaan BPJS Kesehatan dan bank BUMN di Jakarta, 20 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Tahun lalu, kalangan perbankan menempuh langkah konsolidasi lantaran ekonomi dinilai tak kondusif. Para bankir lebih memilih menahan ekspansi demi menjaga stabilitas kinerja di tahun yang sulit. Kini sejumlah bank lebih berani.

    Optimisme para bankir menghadapi tahun 2016 terpancar dari rencana bisnis bank (RBB) yang telah disampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan. RBB perbankan di wilayah Jawa Barat misalnya. Sebanyak tujuh bank di wilayah tersebut menyatakan bakal memacu bisnis tahun ini.

    Dalam RBB yang dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional (KR) 2 Jawa Barat diketahui, bank umum di Jabar secara akumulatif menargetkan penyaluran kredit pada tahun ini sebesar Rp95,44 triliun atau meningkat 18,73% dari realisasi kredit tahun lalu yang mencapai Rp81,49 triliun. Adapun penyaluran kredit tahun sebelumnya tercatat tumbuh 18,26%.

    Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), dana yang terkumpul secara akumulatif ditargetkan mencapai Rp102,56 triliun, atau meningkat 29,9% dari pencapaian tahun lalu yaitu sebesar Rp100,6 triliun.

    Sebanyak tujuh bank yang berkantor pusat di Jabar yaitu Bank BJB, Bank Saudara yang telah berganti menjadi Bank Woori Saudara, Bank BNP, Bank Fama Internasional, Bank Artos, Bank Bisnis, dan Bank BJB Syariah.

    Direktur Pengawasan Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) KR 2 Jabar Riza Aulia Ibrahim mengatakan bank di Jabar pada tahun lalu lebih memilih melakukan konsolidasi lantaran situasi yang tidak menentu.

    “Lebih optimistis sekarang karena mereka sudah bersiap. Beberapa bank di tahun lalu memang sedang konsolidasi, di antaranya Bank BJB dan Bank BNP. Tahun ini mereka sudah mulai running. Jadi lebih optimistis,” katanya kepada Bisnis.com.

    Menurutnya, sejumlah bank pada tahun ini akan masuk ke segmen atau sektor pembiayaan yang baru. Ada juga yang memperbesar kreditnya ke sektor infrastruktur. Dia menegaskan otoritas meyakini bank-bank tersebut memiliki kapasitas dan kompetensi untuk mencapai RBB yang telah disampaikan.

    Kepala OJK KR 2 Jabar Sarwono menyatakan otoritas akan mendorong pelaku industri perbankan untuk turut mendukung program pemerintah, yakni meningkatkan penyaluran kredit di sektor produktif.

    “Masa lembaga jasa keuangan jalan sendiri di captive market-nya saja, mana sektor produktifnya? Itu akan dipertanyakan. Walaupun tentu untuk masuk ke sektor produktif, terutama yang baru, pelaku industri harus siap dana dan sumber daya manusianya.”

    Menurutnya, pelaku industri keuangan harus turut mendukung program pemerintah pusat maupun daerah dalam mendorong perekonomian masyarakat, khususnya dari sektor produktif ataupun sektor riil.

    “Jabar punya program besar , ada pembangunan bandara, LRT, dan sebagainya. Tetapi untuk masuk ke situ, bank tidak bisa mengandalkan deposito atau sumber pendanaan jangka pendek, itu mismatch,” ujar Sarwono.

    Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. atau Bank BJB sudah menyiapkan sejumlah agenda dan strategi bisnis tahun ini.

    Selain memacu peningkatan komposisi DPK, Bank BJB juga bakal meningkatkan kualitas layanan, penyaluran kredit yang optimal, peningkatan fee based income, serta layanan produk wealth management dan bancassurance.

    Direktur Utama Bank BJB Ahmad Irfan menyatakan perseroannya optimistis perekonomian pada tahun ini bakal membaik seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang mulai menunjukkan tren positif.

    Kendati ekonomi Indonesia melambat pada 2015, Bank BJB menargetkan kinerja korporasi akan semakin tumbuh pada tahun ini, menyusul kesempatan perekonomian yang kian terbuka.

    Menurut Irfan, perekonomian Indonesia berdasarkan analisis Bank Indonesia diperkirakan tumbuh 5,2%--5,6%. “Hal itu mengindikasikan bahwa tahun 2016 diproyeksikan akan lebih baik dibanding tahun lalu.”

    REALISTIS

    Optimisme tinggi juga diusung PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo (Bank Sulutgo). RBB yang mereka sampaikan ke OJK masih di atas proyeksi kinerja industri perbankan 2016. Dalam RBB tahun ini penyaluran kredit industri perbankan diharapkan bertumbuh sebesar 14,1%, sedangkan DPK 12,7%.

    Meskipun demikian kinerja Bank Sulutgo ternyata masih dinilai belum memuaskan. Kepala Bagian Pengawasan Kantor OJK Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara (Sulutenggomalut) Heru Setyo Handogo mengatakan penilaian OJK terhadap Bank Sulutgo mengalami penurunan.

    “Memang kinerja Bank Sulutgo perlu banyak ditingkatkan, begitu juga dengan BPD lainnya. Misalnya dari pengelolaan sisi kredit dan surat berharga,” katanya.

    Sebelumnya, Predisen Direktur PT Bank Sulutgo Johanis Ch. Salibana menyatakan pihaknya dan 18 BPD lain masih terkolong belum efisien atau mendapat nilai 0,7 dari tingkat efisien dengan standar nilai 1. “Bahkan baru ada satu BPD yang mendekati 1. Artinya memang sebagian besar BPD belum efisien,” ujarnya.

    Di sisi lain, tak semua pelaku industri perbankan optimistis kinerja tahun ini bakal lebih baik ketimbang tahun lalu. OJK Regional 5 Sumatra menyatakan dalam RBB 2016, pelaku industri perbankan di Sumatra Utara (Sumut) mematok pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga masing-masing 11%.

    Bila dibandingkan dengan kinerja 2015, rencana tahun ini justru lebih rendah. Pada kuartal III/2015, penyaluran kredit di Sumut telah tumbuh 13,34% secara year-on-year, sedangkan dalam RBB 2016 laju kredit dipatok sekitar 11%.

    Kepala Bagian Informasi dan Dokumentasi OJK Regional 5 Sumatra Saryo sebelumnya mengatakan berdasarkan data sementara RBB yang disampaikan oleh bank umum yang berkantor pusat di Sumut, tahun ini aset bank ditargetkan tumbuh kurang lebih 12%, sedangkan dana pihak ketiga 11%.

    "Itu data sementara karena ada kemungkinan bank melakukan penyesuaian lagi sesuai perkembangan yang ada," ujarnya medio Januari 2016.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.